Jumat, 03 Juni 2016

indah cintaku



Indah Cintaku


Prolog
Cinta...
Cinta itu bagai senja...
Mengapa? Senja datang cuma sebentar, namun butuh waktu lama untuk melupakan...
Begitupun cinta... datang secara tiba-tiba dan tak butuh waktu lama untuk mencintai, namun akan berbeda jika untuk melupakannya..
Bukan apa-apa, namun ketika seseorang berbicara tentang cinta semua akan menjadi berbeda. Dari lidah yang menjadi kelu dan tak mampu berkata lagi, dari yang murung menjadi ceria, dari yang smart bisa menjadi begitu bodoh ketika dihadapkan oleh rasa yang bernama cinta.

Oke... kali ini saya tidak akan membuat anda galau dan meneteskan air mata ketika membaca tulisan ini. Banyak kritik yang membangun bagi saya dan menjadi semangat baru untuk saya. Menulis?? Dari kecil saya sudah diajarkan menulis oleh orang-orang yang ada didekat saya, ibu saya, guru saya, dan banyak lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu saya menjadi sangat gemar dan ketagihan ketika otak saya memberi ide untuk dapat saya tulis disini.

Tulisan ketiga ini khusus saya persembahkan untuk sahabat yang selalu mendorong saya supaya tidak berhenti menulis. Semoga dengan tulisan ini, dapat memberikan inspirasi bagi pembaca.

Part 1
Masa terakhir di putih abu-abu
Cika Pov’s
Lorong demi lorong kami lewati bersama dengan perasaan yang penuh semangat. Kami bukanlah sepasang pasangan yang sedang berjalan bergandengan. Namun kami hanya dua insan yang memiliki kenyamanan tersendiri ketika bersama. Perkenalkan namaku Siska Pratiwi, aku murid SMA disalah satu sekolah negeri Yogyakarta. Sedangkan orang yang selalu ada disampingku adalah Linda, nama lengkapnya Linda Permanasari. Kami sudah bersahabat sejak kecil, sejak linda pindah dan menjadi tetanggaku. Sejak SD sampai SMA kami selalu satu sekolah, maka tidak jarang yang memanggil kami dengan sebutan “kembar dempet”. Filosofi dari kembar dempet karena kami selalu bersama dan menempel seperti anak kembar yang jika terpisah tidak akan bisa hidup lagi.

Kembali ke awal, aku dan linda sudah bersahabat sejak kecil. Dari semua teman yang pernah kutemui, hanya linda lah yang dapat mengerti dan memahamiku. Mungkin banyak yang mengatakan lebay atau apapun, namun itulah yang kurasakan. Saat ini kami sudah menginjak semester akhir untuk jenjang SMA. Kami sudah mempersiapkan ujian dengan semaksimal mungkin dan juga tidak lupa berdoa agar semuanya dapat berjalan dengan lancar. Ngomong-ngomong soal ujian akhir, kami juga sudah memilih universitas mana yang akan menjadi tempat selanjutnya kami berpikir ria. Ya... kami memilih UGM sebagai tempat belajar kami selanjutnya. Maka untuk bisa masuk di perguruan yang berkelas internasional itu kami harus belajar dan terus belajar.

Sambil terus melewati lorong sekolah yang semakin sepi karena ditinggal oleh para penghuninya, kami bergegas untuk pulang bersama-sama. Didepan gerbang sekolah, sudah ada pak supir yang setia menunggu kami didepan.
“monggo non cika... ” sapa pak darno supir pribadi keluargaku
Dirumah aku terbiasa dipanggil dengan  “cika”.
Aku hanya mengangguk dan masuk ke mobil bersama linda. Pak darno memang sudah bekerja lama dengan papaku, sejak aku kecil pak darno sudah menjadi supir papa. Kami pun sudah menganggap pak darno seperti keluarga sendiri.
“lin, mampir ke warungnya mbok minah yuk..” pintaku
“boleh cik... aku juga laper... ” jawab linda
“pak mampir ke tempat biasa ya...” aku
“siapp cah ayuuu...” jawab pak darno bersemangat
Setelah mampir ke warung makan sederhana milik mbok minah, dengan perasaan yang senang karena perut kenyang, kamipun pulang kerumah.
Rumah kami saling berhadapan. Ya tetangga maksudnya. Di kompleks perumahan elit disini, rumah kami yang paling bagus diantara yang lainnya. Bukannya sombong sih, tapi memang itu kenyataannya.
Pasti kalian bertanya-tanya, orangtua kami kerja apa? Ya aku jelaskan sedikit, papaku adalah seorang pengusaha dibidang minyak. Papa punya perusahaan minyak di kalimantan sana. Sedangkan mamaku dulu seorang pramugari yang sangat cantik. Jadi tidak salah jika anaknya cantiknya kebangetan. Hehehe... J
Sedangkan orangtua linda, papanya seorang arsitektur, mamanya seorang dosen disalah satu universitas disini. So, untuk masalah keuangan, keluarga kami tidak kekurangan apapun. Namun kami berdua juga tidak mau sombong, kami tidak pernah memilih orang untuk berteman, apalagi dari segi ekonomi. Itu bukan gaya kami. Yang penting baik hati udah cukup.
Seiring berjalannya waktu, kami akan bersiap menghadapi ujian akhir. Minggu depan adalah hari H kami ujian nasional. Sudah semestinya kami sibuk dengan les tambahan dan minta doa kesana kemari.
Akhirnya kami selesai menghadapi ujian itu. Untuk sementara waktu, setelah menghadapi ujian nasional kami bisa bersantai sejenak. Mengapa sejenak? Karena kami juga harus mengikuti beberapa tes masuk perguruan tinggi. Dari kecil, kami selalu memilih jurusan yang sama, namun untuk kali ini, kami berbeda pendapat. Linda memilih fakulkas hukum, sedangkan aku memilih kedokteran. Wow fantastis bukan?? Dari kecil linda takut dengan jarum suntik, makanya dia tidak mau masuk satu fakultas denganku.
Ujian seleksi pun diadakan. Aku dan linda memang satu universitas, namun kita beda fakultas.
Part 2
Ospek
Cika Pov’s
Akhirnya kami diterima di universitas yang kami mau, hari ini adalah hari ospek pertama. Memang ini moment yang sangat ku benci, karena ini ajang dikerjain dan dipermainkan oleh senior. Seperti biasa, aku dan linda ospek bersama.
“perhatian... semua mahasiswa baru menempatkan diri dan berbaris sesuai fakultas masing-masing. ”
Aku pun harus berpisah dengan Linda. Saat ini, tidak ada yang kukenal satupun disini. Kulihat linda disana juga sendirian, tak mengenal siapapun. Kulihat ada yang menarik disana, seorang gadis berkaca-mata yang sedang berdiri sendirian. Aku memutuskan untuk menghampirinya.
“heiii.... fakultas kedokteran juga??” tanyaku
“heii... iya... kamu fakultas ini juga?” tanyanya
“iya.. kenalin aku Siska... siska pratiwi... ” ucapku sembari mengulurkan tangan.
“aku... aku Putri...  Putri Aldira..” ucapnya dan menyahut uluran tanganku.
Akhirnya aku bisa mendapatkan kenalan disini, dan kuharap dia juga akan menjadi temanku.
Oke.. hari ospek masih berjalan, saat istirahat siang, kami diberi waktu satu jam untuk beribadah dan makan siang. Akupun mengajak Putri untuk makan bersamaku. Tak lupa, aku juga mengajak Linda untuk makan bersama.
“lindaaa.... ” teriakku kencang
“cikaa.... ” teriak linda melihatku kegirangan.
“gimana ospeknya? ” tanyaku bersemangat
“seperti biasa lah,. Perkenalan dan pembagian kelompok..” ucap linda
“emm... oh ya... nih temenku... Putri.. baru kenal sih tadi.. hehe”ucapku
“haii... aku linda..temennya cika..”  ucap linda
“haii... aku putri. ” ucapnya singkat
“yaudah yuk kita makan.. laper nih... ayo putri, ikut aku..” aku
Aku pun menuju mobilku yang terparkir disana. Ya.. sejak aku lulus SMA aku udah dibolehin bawa mobil sendiri. Meskipun mamaku masih khawatir. Namun aku tetap membawa mobil sendiri.
Setelah tiba disebuah rumah makan sederhana, kami bertiga pun makan. Kulihat Putri seperti canggung dan malu terhadap kami berdua. Mungkin dia belum terbiasa dengan gayaku dan linda. Setelah makan, kami bertiga pun kembali ke kampus dan mengikuti ospek lagi.
“perhatian... semua Maba kumpul sesuai fakultas kembali. Acara selanjutnya yaitu games. ” ucap seseorang senior melalui speaker
Aku pun kembali kedalam barisan bersama Putri. Sedangkan linda, dia kembali ke fakultasnya.
“oke, semuanya berhitung 1-10. Dan harus ingat dengan hitungannya. Kami akan membagi kalian dalam 10 kelompok. Yang mendapatkan nomor yang sama, berarti itu kelompok kalian. Mengerti?”ucap senior
“MENGERTII KAKK...” jawab kami serempak
Setelah berhitung. Aku mendapatkan kelompok ke 4. Sementara putri mendapatkan kelompok ke 7. Aku merasa kesal, karena putri tidak sekelompok denganku. Aku bingung untuk mencari siapa kelompokku. Tiba-tiba seseorang menyenggolku sampai aku terjatuh.
“aduh.... ” teriakku
“eh eh,.. maaf... lo gapapa kan..” ucap cowo yang menyenggolku
“ati-ati dong mas... sakit tau... ” ucapku sambil memegang lututku.
“aduh maaf... gak sengaja gue... beneran deh... ” ucapnya memelas
“yaudah bantuin gue berdiri. ” akupun berdiri dengan bantuannya
“lo kelompok berapa?” tanya cowo itu
“4...” jawabku singkat
“kebetulan, gue juga kelompok 4.. gue Dio.. lo sapa??” tanyanya
“gue Siska... panggil aja Cika..” jawabku
“oke... yuk cari anggota yang lain.” Ucap dio
“iya...” aku
Aku masih tak menyangka, dia sangat asik diajak mengobrol. Gayanya juga keren. Sepertinya dia bukan dari jogja. Mungkin dia dari Jakarta atau Bandung. Gaya bicaranya seperti anak kota.
“perhatian semuanya. Permainan ini seperti permainan tebak-tebakan. Kami akan membagikan kertas yang bertuliskan siapa kalian. Misalnya, hakim, jaksa, polisi, pencuri, algojo. Dan yang mendapatkan kertas yang bertuliskan “pencuri” maka ia yang akan menjadi sasaran. Bagi yang memegang kertas bertuliskan “pencuri” maka ia harus menyembunyikan identitasnya. Dan yang lainnya harus mencari siapa pencuri itu, jika salah menebak, maka dianggap gugur. Akan ada hadiah bagi 5 orang yang bertahan paling akhir. Mengerti?”
“mengertiii....” ucap kami serempak
Aku masih mencerna perkataan senior tadi. Dan ditanganku sudah terdapat kertas yang telah dibagikan. Aku membukanya pelan, deg.. “pencuri” ucapku kaget dalam hati. Seketika raut wajahku menegang, sementara Dio masih santai disampingku.
“sssttt.... pencuri ya...” bisik dio
Seketika aku melotot kearahnya dan seperti orang ketakutan.
“engg... enggakkk kok...” ucapku tergagap
Kulihat dio malah tertawa melihat ekspresiku saat ini. Aku tau, dia pasti melihat kertasku tadi saat aku membukanya.
“sekarang, kalian boleh saling berkenalan dan mengingat namanya. Dan tanyakan tentang seputar profesi yang dibawanya. Mengerti..??”ucap senior
“mengerti..” jawab kami
Aku pun bingung, harus memulai dari mana. Aku masih canggung dengan teman baru. Kulihat putri disana sedang mengobrol dengan seorang teman, mungkin teman baru.
“permisi... boleh aku tau namamu?” terdengar suara dari belakangku
“kau bicara denganku?” tanyaku memastikan
“iya... boleh aku tau namamu? Aku Risky..” ucapnya
“ohh.. aku Siska... senang berkenalan denganmu..  ” ucapku ramah
“oke siska... apa kamu terbiasa dengan uang, atau barang?” tanyanya langsung kepada permainan ini
“emm... aku suka uang, lagian barang kan dibeli dengan uang. ” jawabku asal
“apa kamu suka mengambil uang orangtuamu?” tanya risky kembali
“tentu.. uang mereka, uangku juga kan. ” jawabku
“apa kau seorang pencuri?” tanyanya menyelidik
“heii... bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?” ucapku mengelak
“hahaha... kenapa tegang sekali?? Aku kan Cuma menebak..” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak
“oke... kamu menang. Aku memang pencuri. Nih liat. ” aku memang pasrah dan ingin mengakhiri permainan ini
“seniorrr... aku menemukan pencuri... namanya Siska..” ucap risky kegirangan seperti mendapatkan emas.
Oke aku sudah ditebak, dan pencuri yang sudah tertangkap pasti akan dikerjain nanti. Aku sudah pasrah akan permainan ini.
Kulihat dio disana masih berdiam diri sembari melirik kearahku. Apa yang dipikirkan olehnya? Mengapa dia terus memandangiku? Apa aku terlihat lucu? Aku menjadi salah tingkah.
Setelah permainan ini selesai, diakhir acara, aku mendapatkan hukuman. Yang benar saja, aku disuruh menyatakan cinta kepada salah satu diantara peserta ospek disini. Aku bingung, hanya ada 2 lelaki yang aku kenal. Dio dan Risky. Dio memang keren, dia tampan dan terlihat seperti anak gaul. Sedangkan Risky, dia biasa saja. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan wajahnya imut seperti anak cewe.
“oke, kali ini aku akan menyatakan kepada seorang lelaki yang sudah menangkapku tadi. Risky... I LOVE U....” ucapku keras
Serentak semua orang menertawakanku. Mereka sangat puas karena gadis seperti diriku dikerjain oleh senior.
Setelah semuanya mendapatkan hukuman, acara ini pun selesai.
Aku pun pulang kerumah bersama Linda. Hari ini sungguh memalukan. Namun ini sudah biasa kan terjadi saat ospek. Dulu pas ospek SMA juga pernah permainan seperti ini.

Hari kedua...
Aku berangkat bersama linda menuju kampus. Ketika dijalan, aku melihat Putri berjalan kaki menuju Kampus. Aku pun menghentikan mobilku.
“Putri... ayo masuk...” teriakku
Putri pun masuk ke mobilku. Kurasa ia kost didaerah sini. Namun agak jauh sih dari kampus, kira-kira kalau jalan kaki butuh waktu 15 menit.
“lo kost disini put??” tanyaku pada putri
“enggak... aku tinggal sama budhe disini. ” jawabnya
“ohh..” akupun terus melaju menuju kampus.
Saat tiba dikampus, kami pun segera keluar dari mobil dengan membawa peralatan yang menjadi syarat ospek, ada topi, kalung nama, kertas manila, dan beberapa peralatan tulis.
“perhatian.. untuk semua peserta Maba segera masuk kedalam gedung.. akan ada seminar untuk kalian.”
Oke.. kali ini gak panas-panasan lagi seperti kemarin. Pikirku dalam hati
Setelah seminar selesai, kami mendapat tugas untuk menuliskan program ke depan yang akan kami raih disetiap semester. Aku pun menulisnya di kertas Manila yang udah kupersiapkan.
Waktu istirahat siang pun tiba. Aku bersiap jalan menuju mobilku. Linda ternyata udah ada disana. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. Ternyata itu Dio
“Siska... lo mau makan dimana? ” tanya dio
“emm.. makan diluar kayaknya.. kenapa? Mau ikut??” jawabku
“boleh deh... lagian gue gatau jalanan sini.. bentar gue ambil mobil dulu..” jawab dio
“ehh ngapain... bareng aja pake mobil gue.. ” ucapku.
“oke deh...” ucap dio
“Bentar, gue telpon Putri dulu, biar bisa bareng berempat” ucapku sebelum berangkat.
“put, mau makan bareng gak?” aku
“gak deh cik... aku ini diajak bareng temen dikantin.” Ucap putri
“oke deh..” ucapku sembari menutup telponku.
Kami bertiga pun berangkat. Saat dimobil, kami ngobrol tentang diri kami masing-masing. Ternyata Dio berasal dari Jakarta. Bener kan tebakanku. Udah keliat dari gayanya. Linda juga berkenalan dengan Dio di mobil. Seru deh, kami bertiga ngobrol kesana kemari serasa udah kenal lama.
Kami berhenti disalah satu rumah makan sederhana. Dan setelah beberapa menit kami makan. Kami segera kembali ke kampus. Kulihat sudah jam 12.50. sepuluh menit lagi waktu istirahat siang selesai. Aku takut kalau sampai terlambat pasti kena hukuman.
Tiba di kampus, kelihatannya sudah masuk semua ke gedung. Kulihat dio juga panik saat ini.
“gimana nih??” tanyaku pada dio
“yaudah diadepin aja.. ” sahutnya
Alhasil kami bertiga kena hukum disuruh orasi diakhir ospek nanti. Okelah, ini kedua kalinya aku kena hukuman. Dan, sepertinya aku sudah terbiasa.
Akhir acara pun tiba, penutupan ospek kali ini dihadiri oleh rektor kampus. Sampai pada pengalihan senior, kami bertiga masih diawasi oleh senior, mungkin mereka takut kalau kami akan kabur.
“oke... selamat untuk kalian semua telah resmi menjadi mahasiswa dikampus ini. Dan ada sebuah persembahan dari teman kalian. Silahkan untuk mahasiswa istimewa. ” ucap senior
Ya tuhan,.. ini seperti disambar petir disiang bolong. Mengapa didepan semua Maba? Kukira hanya dilingkungan Fakultas aja. Badanku serasa panas dingin. Aku pun melangkah pelan bersama Linda dan Dio. Dio mengambil alih speaker. Dan memulai untuk berorasi.
“oke... perkenalkan gue Dio, Dio Febrian... dan disini gue akan berorasi mengenai Ospek. Mengapa gue memilih tema Ospek? karena menurut gue, Ospek tuh harusnya menjadi ajang perkenalan bagi Mahasiswa Baru, bukan malah dijadikan ajang mengerjai para junior. Bener gak??oke cukup sekian dari gue.”
Dio pun selesai orasi, dan sekarang giliran linda. Linda juga mengusung tema Ospek. Namun linda memberikan banyak nilai moral didalamnya.
Dan sampai kepada giliranku. Deg... jantungku berhenti berdetak. Aku harus ngomong apa nih. Terlintas diotakku tentang korupsi.
“oke... perkenalkan namaku Siska Prawiti. Saat ini negara kita sudah dalam keadaan bahaya pada sebuah Korupsi. Dan karena indonesia negara yang kaya akan SDA dan SDM, maka mari kita tanamkan jiwa “KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI” sebagai wujud SDM yang berkualitas tinggi. Sekian dan terimakasih. ”
Aku merasa lega karena tengah menyelesaikan orasi. Meskipun hanya 5 menit. Setelah itu, acara ospek ditutup.
“perhatian perhatian... untuk semua Maba... kita akan merayakan Ospek tahun ini dengan cara yang berbeda. Besok malam, akan diadakan pesta topeng diaula kampus. Dan semua Maba harus ikut. Selamat bersenang-senang. ”
Kami berdua pun pulang. Aku merasa sangat capek. Untung besok acaranya malam. Coba kalau pagi.. udah pingsan kayaknya.

Malam harinya
“lin.. ayo berangkat..” ucapku saat dikamar Linda
“yukkk” sahut linda
 Kami berdua pun berangkat bersama. Meskipun kami beda fakultas, tapi sebisa mungkin kita selalu bersama.
Acara malam ini sungguh megah. Tak seperti pesta-pesta yang pernah kuhadiri. Kamipun langsung registrasi dan mengambil topeng yang cocok untuk kami. Bahkan topeng pun udah disediakan. Tak kusangka, malam ini juga diisi band terkenal seperti Last child, Seventeen dan Citra Shcolastika.
Oke.. malam ini harus dinikmati. Tak boleh disia-siakan. Banyak mata yang memandang kearah kami berdua. Aku yang mengenakan gaun merah panjang tanpa lengan, dan linda mengenakan gaun berwarna Gold yang berkilau. Kami berdua bak Mutiara ditumpukan pasir.
“linda... kayaknya kita jadi pusat perhatian deh.. ” bisikku pada linda
Namun linda hanya tersenyum dan tak menghiraukan mereka yang menggoda kami berdua.
Acara puncak tiba. Kali ini kami bebas berdansa dengan siapapun. Aku mencoba mencari-cari sosok Dio. Namun tak kutemukan dia dimanapun.
Aku melihat linda sudah berada ditengah ruangan yang menjadi tempat dansa. Sementara aku masih berdiam diri. Ada seseorang yang kutunggu.
“ehemm... nungguin gue ya??” suara dari belakangku
Sontak aku menoleh dan takjub melihat sosok pria itu. Itu Dio, sosok yang kutunggu.
“ehh.. dio??” aku terpesona akan penampilan dio malam ini. Wow.. dia begitu tampan.. dan dia juga keren dengan setelan jas warna grey itu.
“biasanya tuh princess nungguin prince nya... yukk dansa??” ajak dio sambil mengulur tangannya
Akupun hanya mengangguk dan menyambar uluran tangan itu. Aku tak percaya, dio bisa seromantis itu. Kami berdua bak pangeran dan putri raja diarena dansa ini. Banyak mata yang mengarah kepada kami. Ada juga yang mencibir iri mungkin. Aku hanya cuek dan tak menghiraukan mereka. Kurasa, Dio telah membuatku terpesona malam ini. Aku hanya bisa tersenyum dipelukannya.
Beberapa menit kami berdansa. Kulihat Linda dan pasangan dansanya juga asik menikmati malam ini. Namun mataku mengarah pada perempuan yang berdiri dekat pintu masuk. Itu Putri. Akupun berniat menghentikan dansaku.
“kenapa??” tanya dio terkejut
“bentar.. gue mau nyamperin temen gue dulu..” ucapku tak mempedulikan dio
Aku berjalan menghampiri Putri, dia begitu anggun dan cantik malam ini. Dibalik tampang polosnya dan kacamatanya itu, tersimpan aura yang sangat memikat.
“put... putri...” teriakku sambil menghampirinya
“cikaa.... ” jawabnya
“wow... youre so beautiful... ” pujiku
“hehe.. makasih cik.. kamu juga cantik...” ucapnya
“mau dansa gak?? Yuk.. aku cariin pasangan dansa...” akupun langsung menarik tangannya dan menghampiri cowo yang aku kenal pas ospek kemarin.
“risky.... mau dansa gak?? Nih temen gue gaada pasangannya. ” ucapku seraya mengenalkan putri pada risky.
Aku seperti mak comblang saja.. hehehe
“ohh... haii... aku risky... ”
“aku putri...”
Merekapun berkenalan dan sepertinya mereka nyambung dan cocok menjadi pasangan. Sedangkan aku menghampiri Dio ditempat tadi aku meninggalkannya. Tapi dio tidak ada? Dimana dia?? What.. ternyata dio sudah berdansa dengan cewe lain, ahh... aku begitu bodoh.. pasti mereka banyak yang mengantri untuk berdansa dengan dio. Seolah kecewa dan cemburu, aku meninggalkan ruangan itu menuju taman depan. Aku duduk dibangku taman. Pikiranku melayang-layang, apakah aku mulai menyukai Dio? Lalu kenapa aku harus marah seperti ini?? Kenapa aku gak terima liat dio bersama cewe lain?
Hampir setengah jam aku duduk dan hanya diam ditaman. Aku berharap Dio datang menghampiriku dan minta maaf. Namun, tak ada tanda-tanda kedatangannya.
“boleh aku duduk disini??” tiba-tiba ada suara disampingku, namun itu bukan suara Dio
“ehh... bolehh... duduk aja..” jawabku singkat
“kok gak masuk ke dalam?? Kenapa?” tanya cowo itu
“emm.. gapapa kok.. pengen diluar aja..” jawabku lesu
“ohh.. kenalin gue Andika... panggil aja Dika...” ucapnya sambil mengulurkan tangan dan senyum mengembang dipipinya
“aku Siska... biasa dipanggil cika... ” jawabku
“ohh... Cika.. nama yang bagus... kamu Mahasiswa baru kan?” tanya dika
“iya.. kok tau? Kalau kamu?? ” tanyaku heran
“iyalah tau... aku kan senior kamu.. kemarin pas ospek aku liat kamu dikerjain senior yang lain.. hehehe” ucapnya tertawa kecil
“ohh... berarti aku panggil kamu Kak Dika dong...” ucapku
“udah santai aja.. terserah kamu lah.. lagian kita Cuma beda dikit kan..” ucapnya
“hehehe.. oke deh.. kak dika...” ucapku
Kami berdua pun mengobrol dan saling menukar nomor hp serta email. Kak dika sungguh asik diajak ngobrol, dia juga gak kalah kerennya sama Dio. Sejenak aku bisa melupakan sosok Dio yang telah membuatku kecewa tadi.
Sampai acara selesai, aku tidak masuk lagi ke aula gedung. Aku masih duduk berdua ditaman.

Part 3
Semester 1
Cika Pov’s
Setelah pesta malam kemarin, kami sudah resmi menjadi Mahasiswa dikampus ini. Aku sangat bersemangat dengan kuliah pagi ini. Oh ya.. aku juga sekelas dengan Dio dan Putri. Namun, aku masih belum bertegur sapa dengan Dio setelah kejadian malam itu. Kami tak ada masalah sih, Cuma untuk bertegur sapa aku tak berani. Aku masih kecewa dengannya. Aku pun hanya mengobrol dengan Putri dan beberapa teman cewe lainnya.
Hari pertama kuliah berlalu, kali ini aku tak bersama linda. Aku berangkat kuliah sendiri, karena linda jadwal kuliahnya siang. Sebelum pulang, aku menuju kantin kampus. Kurasa aku harus kesana dan mengenal kantin itu.
Disini, aku sendiri dan menikmati makananku. Tiba-tiba ada sms dari kak Dika.
Sms kak dika:
Cik, lagi dimana?

Aku:
Lagi dikantin kak.. kenapa?

Sms kak dika:
Aku nyusul ya? J

Aku:
Iya.. terserah kaka J

Aku pun hanya tersenyum melihat ponselku, kak dika begitu baik dan menyenangkan. Bahkan meskipun kita baru kenal, namun kak dika begitu baik dan lucu.
Setelah menunggu beberapa menit, kak dika pun menghampiriku dikantin dan duduk didepanku.
“kok sendirian cik.. temenmu mana?” tanya kak dika
“iya lagi pengen sendiri aja kak... sambil melihat-lihat kampus ini. ” jawabku
“ohh... gimana kuliah pertama? Masih semangat ya?” kak dika
“ya gitu deh kak.. belum ada tugas kok.. masih perkenalan tadi.. ” jawabku
Setelah mengobrol kesana kemari, aku pun memutuskan untuk pulang. Kak dika berniat mengantarku, namun aku bilang bahwa aku bawa mobil sendiri. Alhasil kami berdua pulang denga  mobil sendiri-sendiri.
Dikalangan anak fakultas kedokteran, memang banyak yang membawa mobil. Kebanyakan mereka anak orang kaya, seperti anak pengusaha, anak dokter, dosen, dan pejabat lainnya. Namun aku tak menilai teman dari siapa orangtuanya, ataupun latar belakang keluarganya. Seperti Putri, putri dijogja tinggal dengan Budhe-nya, Putri anak yatim-piatu, dan dia disekolahkan juga oleh Budhe nya itu.

Hari berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah hampir sebulan aku menjalani aktifitas kuliahku. Aku dan dio sudah saling bertegur sapa, namun aku masih membatasi obrolanku dengannya. Hanya topik pelajaran saja, aku berbicara dengannya. Seolah setelah malam pesta itu, kami tak mengenal.
....
Hari ini aku mendapat tugas kelompok untuk meneliti di rumah sakit. Dan ada satu yang membuatku gusar yaitu aku dan dio satu kelompok. Kelompokku terdiri dari 4 orang,  aku, dio, rani, dan ciko. Aku sudah biasa dengan rani dan ciko, namun dengan dio? Aku tak yakin aku bisa bersikap biasa. Tau kan, sudah sebulan setelah pesta malam itu, aku berusaha menjauh dari Dio.

“Dio Pov’s”
Aku bingung dengan kelakuan Cika, mengapa sejak pesta malam pelepasan Ospek dia tak menyapaku lagi. Padahal sebelumnya kita selalu akrab. Aku benar-benar tak mengerti. Aku merasa ada yang disembunyikan dari Cika, jujur aku senang ketika berada didekatnya. Namun sejak pesta itu, dia bahkan seperti menghindariku. Padahal kita berdua sempat berdansa diacara itu. Aku sangat berharap pada Cika, kuharap dia juga akan menyukaiku.
Sudah sebulan lamanya kita tak bertegur sapa, hanya sesekali kita bicara itupun ketika ada tugas yang kebetulan sekelompok. Seperti hari ini, kami mendapat tugas untuk meneliti di rumahsakit. Dan Cika hanya bicara kepadaku untuk menentukan jadwalnya. Hatiku sangat sakit, mengapa Cika jadi dingin begitu? Apa ini gara-gara dia dekat dengan salah satu senior itu? Aku memang melihat Cika beberapa kali bersama senior saat di Kantin kampus. Namun aku tak berpikiran jauh, mungkin hanya urusan kampus. Pikirku.

...............
 CIKA POV’S
Minggu ini aku udah janjian sama kelompokku untuk ke rumahsakit. Ya.. untuk penelitian. Dan aku juga udah beritahu Dio dan teman lainnya untuk langsung ketemu di depan Rumahsakit.
Saat tiba di parkiran, kulihat Dio dan Rani udah sudah ada disana.
“Rani... udah lama ya?” tanyaku pada Rani tanpa menoleh kearah Dio
“enggak kok.. baru aja nyampe bareng Dio..” jawab Rani
“ohh... Ciko mana??” tanyaku
Rani hanya mengedikkan bahunya pertanya tak tau.
Sepuluh menit kami bertiga menunggu Ciko diparkiran rumahsakit ini. Akhirnya Ciko datang dengan motornya.
“sorry all... motor gue mogok tadi... ”ucapnya sambil nyengir kuda
“yaudah yukkn buruan... keburu jam makan siang ntar..” ajak Rani
Kami berempat pun berjalan beriringan. Rani dan Ciko didepan, sedangkan Aku dan Dio dibelakangnya. Namun kami berdua hanya diam .

Setelah seharian di Rumahsakit, akhirnya kami merasa lelah dan memutuskan untuk pulang kerumah. Dan juga penelitian sudah cukup untuk tugas kelompok kami. Dan waktu menunjukkan angka 7 malam hari.
Diparkiran, Rani dan Ciko pulang bersama karena arah rumah mereka yang sama. Sementara aku dan D         io naik mobil masing-masing. Saat aku hendak masuk ke mobil, tiba-tiba Dio menarik tanganku.
“Cika... aku pengen ngomong...” ucapnya cepat
“ada apa Dio?” tanyaku
“kamu yang kenapa Cik... kenapa kamu selalu menghindar dariku?” tanya dio
“aku... aku gak menghindar kok.. perasaan kamu aja kali,.,.” jawabku mengelak
“Cika... udah sebulan ini kamu cuekin aku.. sejak pesta malam itu.. aku butuh penjelasan Cika....” ucap Dio memelas
“dengar ya Dio... aku gak ada masalah kok sama kamu.. ” jawabku sekenanya
“tapi Cik... aku pengen kita bisa akrab lagi.. kayak pertama kita kenal pas Ospek... Aku pengen kamu anggap aku ada.. bukan cuekin aku...” ungkap dio
Aku hanya mengangguk dan masuk ke mobil. Hatiku sakit melihat Dio memelas seperti itu. Apa aku keterlaluan. Tanpa pikir panjang, aku meninggalkan Dio yang masih mematung disana.

Esok harinya...
Dikelas kulihat Dio sudah duduk dibangkunya. Senyumnya mengembang dan dia juga menyapaku pagi ini.
“pagi Cik...” sapa dio
“pagi juga...” jawabku dengan membalas senyumnya
Pagi ini serasa berbeda, Dio menyapaku dengan senyumannya yang sungguh manis. Apa dia serius dengan perkataannya kemarin? Mungkin dia hanya ingin dekat denganku seperti awal kita kenal.
Saat kuliah selesai, aku berjalan menuju kantin kampus ini. Aku memang biasa menghabiskan waktuku dikantin ketika selesai kuliah.
Tiba-tiba Dio duduk dikursi depanku. Aku merasa terkejut, untuk apa dia kesini?
“Heii Cikk... boleh duduk disini kan?” ucap dio
“silahkan aja...” jawabku santai
Jujur aku senang saat moment seperti ini. Dio berada didekatku dan aku bisa melihatnya begitu dekat. Kami berdua juga mengobrol kesana kemari.
Saat aku hendak pulang, tiba-tiba ponselku berbunyi. Kubuka ternyata kak Dika mengirim pesan.
Sms kak dika:
“cika.. lagi dimana??”

Balasku
“ini lagi mau pulang kak.. ada apa?”

Sms kak dika:
“ohh... tunggu bentar diparkiran ya.. aku pengen ketemu..”

Balasku
“ok kak..”

Aku senang berada disisi kak Dika, dia juga selalu menelponku ketika dimalam hari. Tanpa sadar, aku tak menghiraukan Dio yang berjalan disampingku.
Diparkiran kampus, aku masih berdiri didepan mobilku. Sementara Dio sudah balik dengan mobilnya. Kupikir Dio marah karena tadi aku tak menghiraukannya karena aku terlalu senang membalas sms kak Dika.

“Cikaa.... udah lama?” suara dibelakangku
“eh kak Dika... enggak kok... ” jawabku
“Cik.. ntar malem ada acara gak??” tanya kak dika
“emm... enggak ada kak... kenapa?” aku
“mau gak jalan sama kakak??” kak dika
“jalan?? ” tanyaku heran
“iya jalan.. kita nonton trus makan gitu...” jawab kak dika
“boleh deh kak... ” jawabku senang
“oke deh.. ntar malem aku jemput jam 7 ya... dahhh....” ucap kak dika seraya meninggalkanku
Aku memang senang bisa jalan dengan kak Dika, secara banyak temenku juga yang tergila-gila sama kak Dika.

Malam ini aku merasa tegang dikamar, mungkin ini pertama kalinya aku pergi dengan cowo semasa kuliah. Ya.. kan emang baru awal kuliah.

Suara mobil kak Dika terdengar parkir didepan rumah. Aku pun bersiap-siap untuk turun.
“mah... aku pergi dulu ya...” pamitku sama mamah
“jangan malem-malem ya sayang..” ucap mamah
“permisi tante... ” ucap kak dika sopan

Kami pun pergi meninggalkan rumahku. Dimobil, terdengar alunan musik romatis yang diputar kak dika. Aku merasa tegang berada didekatnya.
“kita mau nonton dulu, apa makan dulu?” tanya kak dika memecah keheningan
“emm... terserah kakak deh...” jawabku
“oke.. kita makan dulu ya.. ” kak dika
Sampai di sebuah restoran seafood, kak dika memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untukku. Kak dika juga menggandeng tanganku ketika berjalan memasuki restoran. Kami berdua sempat menjadi pusat perhatian di dalam restoran.
“Kamu mau makan apa Cik??” tanya kak dika
“emm... terserah kak dika aja deh...” ucapku malu-malu
Oke akhirnya kak Dika pesan makanan untuk kami berdua. Dan memang kak Dika WOW banget, dia sangat tampan dengan pakaian casualnya saat ini. Setelah selesai makan, kak Dika memberiku sebuket bunga. Apa maksudnya coba? Apa kak dika mau nembak aku disini? Seketika tubuhku membeku dengan mengeluarkan keringat dingin.
“Cika... semenjak aku melihatmu ditaman kampus malam itu aku merasa telah Jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku selalu ingin bersamamu dan tak ingin jauh darimu. Emm.... Cika... maukah kau menjadi kekasihku? ” ucap kak dika seraya berlutut dengan memegang bunga mawar merah.
Kak dika emang we o we bangettzz... WOW... ini pertama kalinya ada cowo yang nembak aku dengan begitu romantis.
Tak mau berlama-lama, aku pun mengambil bungan mawar itu dan mengangguk.
“iya aku mau kak...” ucapku akhirnya
Kak dika pun bangun dan memelukku bahagia. Pengunjung di restoran pun ikut bersorak gembira. Aku jadi malu dan menenggelamkan wajahku didada kak Dika.
Oke.. setelah acara tembakan itu... upss maksudnya jadian... hehehe.. Kak Dika mengantarkanku pulang kerumah. Sampai dirumah, aku hanya senyum-senyum sendiri menuju kamarku. Masa bodoh lah dengan orang rumah, yang penting aku bahagia..

Part 4
Kak dika yang romantis
Cika Pov’s
Paginya saat aku mau berangkat ke kampus, tiba-tiba ada mobil didepan rumahku. Ya tuhan... itu mobil kak Dika. Akupun menghampirinya.
“lohh... kak Dika kok ada disini? ” ucapku heran
“selamat pagi my princess... mulai sekarang aku akan antar jemput kamu.. mau kan??” ucap kak dika lagi-lagi dengan mawar merah ditangannya.
Akupun hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Kak dika emang cowo paling romantis yang pernah kutemui. Bahkan dia semalam gak bilang kalau ingin antar-jemput aku.
Saat dimobil, aku hanya bisa tersenyum dan melihat kak Dika yang notabene adalah pacarku. MY PRINCE. Inget yaa.. hehehe..
Tak banyak kata yang terucap dari kami berdua. Mungkin karena ini hari pertama kita setelah jadian semalam. Tak terasa kami sudah sampai di kampus. Kami berjalan bergandengan menuju kelasku.
“Cika.. ntar kalau udah selesai kuliah tunggu aku dikantin seperti biasa ya.. jangan pulang sendirian. Oke?” ucap kak dika saat tiba didepan kelasku
“iya kak... ” ucapku pelan
Aku berjalan kedalam kelas dan menuju kursiku. Aku ingin menghampiri Putri yang sudah ada didalam. Namun kulihat dia sedang asik ngobrol sama Dio. Kuurungkan niatku untuk cerita sama putri.
Saat kuliah selesai.. aku mengajak Putri untuk menemaniku di kantin. Aku menceritakan semua yang terjadi, saat kak Dika nembak aku dan kami jadian.
“selamat ya Cik... kamu emang cocok sama Kak Dika... kalian sama-sama perfect.” Ucap Putri seraya mengacungkan kedua jempolnya.
“oke... sekarang kamu boleh makan apa aja aku yang bayarin. Itung-itung pajak jadian.. hehehe” ucapku
Tak berselang lama Kak Dika muncul dan langsung menghambur denganku.
“maaf nunggu lama ya my princess.. ” ucap kak dika
“gak kok kak.. baru aja kami selesai.. ” ucapku
“oke... kayaknya dia temen baik kamu.. kenalian aku Dika pacarnya Cika.. kalau dia genit sama cowo dikelas tolong biangin aku.. ” ucap kak dika seraya berkenalan dengan Putri teman baikku.
Mendengar kak dika ngomong seperti tadi, kami bertiga pun tertawa bersama. Gimana enggak coba, kak dika seperti mengumumkan pada dunia kalau aku ini miliknya. Lucu kan..
“kak... kayaknya ada satu orang yang belum tau tentang hubungan kita. Sahabat aku, linda.” Ucapku
“oke.. suruh aja dia kesini.. ” ucap kak dika santai
Akhirnya aku menelpon Linda untuk menyusulku ke kantin. Saat tiba, kami berdua langsung memberitahu linda tentang hubungan kita. Satu kata yang linda ucap yaitu “WOW”.. katanya kami berdua sangat cocok. Aku sangat senang karena Linda mendukungku.

Dio Pov’s
Hari ini aku merasa ada yang aneh pada Cika. Dia seperti sangat bahagia. Bahkan saat dikelas dia selalu tersenyum memegang ponselnya. Apa Cika sedang stress? Pikirku
Rasa penasaranku begitu besar, saat kuliah selesai aku mengikuti Cika dan Putri menuju kantin. Aku memilih meja yang ada dibelakang Cika. Dan seketika tubuhku tegang saat mendengar cerita Cika bahwa dirinya dan Dika sudah jadian. Jadi, senior yang selalu bersamanya itu sekarang adalah pacarnya. Rahangku mengeras dan aku ingin sekali menggebrak meja yang ada didepanku. Namun kutahan sekuat mungkin. Tak berselang lama, pria yang sedang dibicarakan tadi muncul dan langsung duduk disamping Cika. Tubuhku beku, hatiku sangat sakit, apa mungkin aku cemburu?
Melihat kedekatan Cika dan Dika aku tak sanggup lagi. Kuputuskan untung pulang dan menenangkan diriku.

..............

Cika Pov’s
Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah sebulan hubunganku dengan kak Dika. Dan ada satu orang yang kupikir tidak suka dengan hubunganku ini. DIO. Entah mengapa setelah dia mengetahui hubunganku dengan kak Dika, Dio menjauh dariku. Dia seperti membenciku. Dulu aku merasa kalau Dio tak menyukaiku, makanya aku dekat dengan kak Dika. Dan sekarang aku merasa kalau Dio cemburu melihatku dengan kak Dika. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.
Malam ini kak Dika mengajakku dinner. Ya aku udah siap menunggu kak Dika. Mommy pun udah tau hubunganku dengan kak Dika. Ternyata mommy suka dengan kak Dika, karena kak Dika sopan, baik dan bertanggung jawab. Kak dika juga selalu mengantarkanku pulang sebelum jam 10 malam.
“mom... aku berangkat dulu ya...” pamitku pada mommy
Akhirnya aku dan kak Dika berangkat menuju cafe. Cafe ini begitu indah, dengan desain warna coklat dan tema classik. Wow.... satu kata yang terus terucap dari mulutku. Didalam cafe juga terdapat band yang menghibur para tamu. Oke, sekarang aku dan kak dika duduk disalah satu meja.
Seperti biasa, kak Dika yang memesan makanan untukku. Setelah pesanan kami datang, kami pun langsung memakan makanan itu. Aku rasa kak Dika seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Dari tadi kak Dika sibuk dengan ponselnya. Siapa coba yang ganggu makan malam kita.
“kak Dika...” panggilku pelan
“ehh... iya princess... ada apa?” tanya kak Dika
“kakak chat sama siapa sih, kok kelihatannya seru banget..” ucapku kesal
“enggak kok sayang... ini temen kampus kakak nanya tugas..” ucap kak Dika
Akupun meneruskan makanku yang sempat tertunda. Oke, mungkin hanya perasaanku. Kulihat ponsel kak Dika berbunyi, dan yaaa kak dika pergi menjauh dariku dan mengangkatnya. Apa sepenting itukah sampai-sampai kak Dika menjauh dariku? Sejuta pertanyaan ada dibenakku. Kulihat disisi meja yang lain, ada yang memperhatikanku. Ternyata, itu Dio. Dia sedari tadi mengamatiku dan kak Dika. Kok bisa Dio disini? Aku berusaha mengalihkan pandanganku. Tak berselang lama, kak Dika kembali lagi ke meja.
“siapa kak??”tanyaku
“ehh... gak kok.. mama telpon nanyain dimana... soalnya mama baru pulang dari Singapur..” ucap kak Dika
“ohh... kok aku gatau ya kalo mamanya kak dika di singapur??” ucapku
“eh iya,, mama kemarin nemenin papa ke singapur.. 2 minggu tugas disana.. aku lupa gak kasih tau kamu..” ucap kak dika
Well... sepertinya kak Dika bohong sama aku. Dan aku juga gak pernah diceritain tentang keluarganya. Okelah... mungkin kak dika gak mau terbuka tentang keluarganya.

Aku merebahkan tubuhku dikasurku yang empuk. Kupandangi plafon rumahku dan terus memikirkan kejadian tadi. Pertama, kak Dika seperti menyembunyikan sesuatu padaku. Kedua, Dio ada di cafe tadi. Tak mungkin kebetulan, apa mungkin Dio mengikutiku?

Paginya aku menunggu kak Dika untuk berangkat ke kampus. Tiba-tiba kak dika sms kalau gak bisa nganter aku. Well... akhirnya aku berangkat sendiri dengan mobilku.
Dikampus, aku juga tak menemukan kak Dika. Dimana sih kak Dika? Tanyaku dalam hati. Aku mengikuti kuliah dengan malas, semangatku seperti hilang karena tak menemukan kak Dika.
“Cika... keluar yukk.. udah selesai...” ucap Putri
“ehh... udah selesai ya... ” ucapku
“kamu kenapa sih.. ngelamun dari tadi.. ” ucap Putri
Aku hanya diam dan keluar kelas. Langkahku terhenti melihat seseorang yang terus mengganggu otakku dari tadi berjalan dengan seorang cewe. Aku merasa dibohongi oleh kak Dika. Akupun menahan air mataku yang mau menetes dan berjalan menuju mobilku. Kulihat ponselku tak ada sms atau telpon dari kak Dika. Apa kak dika sesibuk itu hingga melupakan aku? Akhirnya aku memutuskan pulang.
Dirumah aku begitu kesal dengan kejadian tadi. Sampai sekarang kak Dika belum menghubungiku. Aku merasa butuh teman untuk menceritakan semuanya. Kulihat baru jam 8 malam. Mungkin Linda dirumah. Aku pun berjalan menuju rumah Linda.
“linda... ” ucapku ketika melihat linda sedang memandangi laptopnya.
“eh kamuu cik.. sinii dudukk..” ucap Linda
“kamu lagi sibuk gak??” tanyaku
“enggak kok... ini udah selesai.” Ucap linda seraya menutup laptopnya dan menghampiriku dikasurnya.
“oke.. langsung aja cerita. Pasti ada masalah kan? ” ucap linda
“Lin... apa menurutmu kak Dika benar-benar cinta sama aku?” tanyaku
“maksud kamu apa Cik? Kak Dika selingkuh gitu??” tanya linda
“enggak.. belum tau sih... kupikir kak Dika udah bosan sama aku...” ucapku
“kok kamu bisa mikir gitu... emang kamu liat kak dika sama cewe lain?” ucap linda
Aku hanya mengangguk dan tak terasa air mata udah netes dipipiku.
“yang sabar Cik... mungkin kamu salah liat kali... ” ucap linda menenangkanku
“aku liat itu beneran kak Dika lin... ” ucapku
“eemmm... oke.. mungkin kita butuh pengintaian.. ” ucap linda
“maksud kamu??” ucapku
“ya kita mata-matain kak Dika.. kalo emang dia selingkuh, yaaa... putus aja” ucap linda
Aku mengangguk pertanda setuju. Akhirnya aku tidur dirumah linda malam itu.

Siang ini aku udah ada kampus. Siang  ini rencananya aku dan Linda akan melakukan pengintaian. Dan untuk tidak menimbulkan kecurigaan, aku berangkat bareng Linda dengan mobilnya.
“Cik.. coba sms kak Dika lagi dimana.” Ucap linda
Aku pun sms kak dika dan dia bilang lagi ada tugas disalahsatu rumahsakit. Kamipun menuju rumah sakit tempat kak Dika berada. Sampai di rumah sakit, aku melihat mobil kak Dika diparkiran. Well... kak dika gak bohong.
“Lin.. kita tunggu disini atau masuk ke dalem?” tanyaku pada Linda
“tunggu bentar.. ” ucap linda
Setelah menunggu hampir 1 jam, kulihat kak Dika berjalan menuju mobilnya. Kali ini ia tak sendirian. Cewe yang ku liat kemarin ada bersamanya. Sebenarnya apa hubungan mereka? Pikirku dalam hati
Mobil kak dika keluar dari rumahsakit itu. Linda pun memacu mobilnya mengikuti mobil kak Dika dari belakang. Dengan hati-hati Linda memacu mobilnya dan tidak terlalu dekat jaraknya agar tak mencurigakan. Setelah 15 menit perjalanan, mobil kak Dika berhenti disalah satu cafe. Cafe dengan nuansa classik warna coklat. What?? Ini cafe yang sama ketika kak dika ngajakin dinner aku beberapa hari yang lalu. Emosiku memuncak, rasanya kepalaku ingin meledak dan mengeluarkan api yang siap menyembur.
“Cik.. kita harus turun deh... gak mungkin kita bisa denger mereka kalo kita disini.” Ucap linda
Oke, aku menuruti Linda. Dan ya... apa yang harus dilakukan untuk menjadi mata-mata? Penyamaran. Aku disuruh pake topi dan kacamata yang besar banget untuk melakukan penyamaran. Well... sahabatku emang perfect. Dia yang nyiapin semuanya. Tapi.. saat ini aku seperti anak bego yang culun dengan kaca mata besar ini. Linda juga menghapus riasanku.
Saat masuk kedalam cafe aku dan linda duduk dikursi yang ada dibelakang kak Dika. Terdengar mereka berdua ketawa-ketiwi.
“Dika... lo beneran pacaran sama junior itu?” tanya cewe
“iyaa... namanya Cika...” ucap kak Dika
Kali ini aku merasa senang karena kak dika tak menutupinya.
“ooohhh... emang lo serius ama dia??” ucap cewe itu lagi
“serius ?? hahaha” kak dika tertawa
“yeeee... malah ketawa. Lo beneran serius sama dia?” ucap cewe itu
“oke.. denger ya Sela... gue pacaran sama Cika itu karna gue taruhan sama Riko. Lo tau kan riko musuh gue dari SMA?” ucap kak Dika
Deg... jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar penjelasan dari kak Dika. Jadi dia pacaran Cuma buat taruhan.
“jadi lo taruhan sama Riko? Terus sampe kapan lo putusin dia? ” ucap cewe itu
“bentar lagi juga bakal gue putusin kok... lagian gue udah bosen sama tuh anak. Emang cantik sih, tadi dia tuh manja dan bego. ” ucap kak dika
Well... aku udah gak bisa lagi nahan emosi. Aku berdiri dan melepas topi serta kaca mata. Kuhampiri meja kak Dika. Plakkkk... suara tamparan terdengar dari wajah kak Dika.
“Cik.. Cika... ” ucap kak Dika kaget
“apa?? ” aku
“ini gak seperti yang kamu denger Cik..” ucapnya
“gak perlu repot-repot ngejelasin lagi. Udah cukup jelas. KITA PUTUS.” Ucapku akhirnya dan meninggalkan cafe itu.
Dimobil, tangisku pecah yang tak dapat kutahan lagi. Linda hanya bisa memelukku dan menenangkanku. Aku merasa begitu bodoh. Bisa-bisanya aku pacaran sama orang yang belum lama ku kenal. Kenapa gak terlintas sedikitpun tentang kak Dika yang mau pacaran sama aku. Aku memang sangat bodoh.

Part 5
Pahitnya cinta
Paginya aku harus berangkat ke kampus seperti biasa. Kali ini aku lebih memilih bareng Linda. Ya karna kan aku gak bisa fokus kalo nyetir sendiri. Dikampus aku hanya duduk termenung, hidupku serasa gelap gulita. Baru sebentar aku merasakan indahnya cinta, namun aku harus menelan pil pahit karena sakitnya dibohongi. Sampai pada kuliah selesai, aku masih terdiam dan termenung.
“cika... kamu gak mau pulang?” tanya putri
“eh.. iya.. kamu duluan..” ucapku malas
Putri pun pergi meninggalkanku. Kurasa hanya ada aku sendiri dikelas ini. Kuputuskan untuk membereskan buku ku dan pergi. Saat ku berjalan menyusuri ruang demi ruang, kurasakan ada yang mengikuti dibelakang. Spontan ku balikkan badanku dan.... DIO.. dia mengikutiku sedari tadi.
“DIOO???” teriakku
“hmmm... why??” ucapnya acuh
“lo ngapain ngikutin guee???” tanyaku
“takut aja lo stress trus bunuh diri deh...” jawabnya asal
Akupun mempercepat laju jalanku dan duduk dibangku taman. Kubuka ponselku ternyata Linda sms kalo dia bakal pulang sore. Oke... kali ini gaada lagi yang antar jemput gue... terpaksa gue harus naik taksi.
Saat ku berjalan menuju gerbang kampus, mobil Dio berhenti tepat disampingku.
“Naik...” ucapnya dingin
Namun aku mengabaikannya dan terus berjalan. Dio masih tetap mengikutiku. Sampai akhirnya dia berhenti tepat didepanku. Tanpa permisi Dio menarikku kedalam mobilnya.
“DIOOOO????” teriakku frustasi
Dia tetap diam dan melajukan mobilnya.
1 menit
5 menit
10 menit
Hening
“lo mau kemana??” tanyaku memecah keheningan
“pulang ” jawabnya asal
“terus gue??” tanyaku
Namun Dio tak menjawabku. Beberapa menit kemudian, Dio berhenti dirumah yang tak begitu besar namun lumayan indah.
“ini rumah lo??” tanyaku
“bukan.. gue ngontrak.. rumah gue di Jakarta noh...” jawabnya dingin
Aku pun turun dari mobil dan mengikutinya. Rumah ini memang tak begitu besar, namun lumayan besar untuk 1 orang. Rumah ini juga memiliki halaman yang lumayan luas, cukup lah buat parkir 3 mobil.
“lo tinggal sendiri??” tanyaku penasaran
“lo bawel amat sih... udah diem aja..” jawabnya dingin sedingin kutub utara.

Aku masih tak mengerti untuk apa Dio membawaku kerumahnya, apa dia sengaja ngajakin aku kerumahnya? Well... otakku terus bertanya-tanya. Dan aku pun hanya mengikuti Dio didalam rumah.
“Lo ada masalah Cik??” tanya Dio memecah keheningan.
“eh.. apa?? Siapa yang bermasalah??” jawabku asal
“yaelah lo... kenapa coba? Lo ngelamunin apaan sih?” tanya Dio lagi
“gak kok... gue Cuma lagi capek aja..” jawabku mengelak..