Novel
ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku(mamak dan bapak), untuk sahabatku
yang selalu mensupportku (cici) dan teman2ku. Kisah ini hanya fiktif belaka. Semoga
dapat menginspirasi.
BERAWAL DARI SANDIWARA
Suara
motor yang lalu lalang didepanku membuat telingaku bising. Bahkan meskipun aku
terbiasa dengan kebisingan di tempat kerjaku, namun ini lebih bising dari semua
kebisingan. Yaa... aku sedang menunggu bus untuk bisa ke tempat kerjaku. Namaku
amelia putri, aku adalah salah satu guru di sma swasta dikota besar ini. Aku
berasal dari kampung yg terkenal lewat batiknya, pekalongan. Dan tempatku
berpijak sekarang ini adalah ibukota dari negara tempatku tinggal, Jakarta.
Setelah lulus sarjana jurusan pendidikan bahasa inggris, aku memutuskan untuk
pergi meninggalkan kota kelahiranku. Meskipun awalnya orangtuaku tidak setuju,
aku tetap saja meyakinkan mereka agar merelakanku pergi dan menggapai impianku.
Kembali
ke permasalahan tadi, aku seorang guru bahasa inggris. Untuk menuju ke tempat
ku bekerja, aku sudah terbiasa dengan bus umum. Namun, keadaan hari ini
sepertinya lain dari hari biasanya. Penumpang hari ini sudah menumpuk di halte,
bahkan ada yang tidak sabar dan memilih menggunakan ojek online. Namun aku tetap
bersikukuh menunggu bus langgananku. Jam ditanganku menunjukkan pukul 6.45.
masih ada waktu 15 menit untuk sampai di kantorku. Ohh iya, aku baru dijakarta
selama 6 bulan ini, dan aku juga baru mengajar di sekolah sekitar 4 bulan.
Sebelumnya aku pernah bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang asuransi, namun
aku hanya bertahan dibulan pertama. Aku tidak mampu jika harus kesana kemari
menawarkan asuransi. Tidak sedikit yang menolak, namun aku tetap bertahan demi
untuk bisa hidup dikota ini. Selama 2 bulan aku menunggu panggilan kerja yang
telah aku sebar dibeberapa sekolah dari smp sampai sma. Akhirnya aku diterima
di sma swasta yang sekarang menjadi tempatku bekerja.
Akhirnya
bus yang kutunggu sudah ada didepanku. Akupun masuk berdesak-desakan dengan
penumpang lainnya. Didalam bus aku hanya bisa berdiri dengan tangan kiri
memegang tas sementara tangan kananku berpegangan keatas. 10 menit berlalu bus
yang aku tumpangi berhenti, akupun segera keluar dari kerumunan para penumpang.
Aku menghelakan napas panjang ketika keluar dari bus itu. Aku melirik jam ku
yang sudah menunjukkan angka 7.05. aku segera berjalan sedikit cepat untuk bisa
kesekolah. Hari ini ada upacara, dan aku sepertinya terlambat. Sampai tiba di
halaman sekolah, aku berlari kecil untuk meletakkan tas di mejaku dan segera
mengikuti upacara hari senin ini.
“syukurlah,
pak kepsek belum datang” gumamku pelan sambil mengatur nafas
“bu
amel hampir aja kena omel pak kepsek kalo sampe telat.” Sahut rekanku sekaligus
sahabatku disekolah ini
Bu
dian adalah guru biologi disekolah ini, umur kita tidak jauh berbeda. Beliau 25
th, dan diriku 24 tahun. Aku sudah menganggap bu dian seperti kakakku sekaligus
sahabatku. Kami berdua sering dijuluki “bucan” atau bu cantik oleh anak2 murid
kami. Ya karena dari sekian guru disekolah ini hanya kami berdua yang paling
muda dan masih seger untuk dipandang.
Aku
hanya tersenyum memandangi mbak dian yang mengkhawatirkanku. Aku lebih senang
memanggilnya “mbak” ketimbang “bu” karena kami sama2 berasal dari jawa.
Setelah
upacara selesai kami berdua bergegas menuju ruang kantor guru untuk
mempersiapkan mengajar.
“mel,
kamu naik bus lagi ya??” tanya mbak dian melirikku
“iyya
mbak, seperti biasa..” jawabku senyum
“kenapa
kamu gak bareng aku aja?? Kan kita bisa bareng mel..” sahut mbak dian lagi
“enggak
ah mbakk... rumah kita kan gak dekat, aku juga gak mau ngrepotin mbak dian..”
jawabku terseryum
“kalo
gitu kamu tinggal dirumah aku aja, biar deket.. ” sahut mbak dian kembali
membuatku terpaku
“enggak
mbak.. akkuu ada jam mbak, permisi..” jawabku untuk menghindari pertanyaannya
Mbak
dian emang baik sama aku, dia sering memintaku untuk tinggal bersamanya, karena
dia tinggal sendirian dirumahnya. Mbak dian termasuk orang yang cukup kaya
menurutku. Ayahnya seorang pengusaha furniture yang sudah besar dan memiliki
kantor cabang dibeberapa wilayah di jawa. Namun dia memilih pergi ke kota besar
dan hidup mandiri tanpa bantuan orangtuanya. Meskipun ayahnya memberikan rumah
dan mobil untuk menunjang pekerjaannya.
Suara
hentakan sepatu terdengar dari arahku, beberapa muridku yang masih berlarian
didepan kelas, mereka mulai masuk dan duduk ke kelasnya. Aku memasuki ruang
kelas 2B, seperti biasa aku menyunggingkan senyum kepada murid2ku.
“selamat
pagi ”
“selamat
pagi bu..” jawab mereka serempak
“sudah
siap dengan ulangan hari ini?? ” tanyaku kepada mereka
Terdengar
banyak jawaban yang belum siap sambil memasang muka cemas.
Aku
membagikan selebaran kertas soal yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Setelah
semuanya menerima kertas soal, suasana menjadi tenang tanpa ada kegaduhan lagi.
Sepertinya mereka sedang serius menatap soal itu. Setelah 1 jam berlalu. Satu
persatu muridku kedepan dan mengumpulkan jawaban mereka. Aku hanya diam dan
sesekali tersenyum melihat jawaban lucu dari mereka.
Suasana
menjadi gaduh lagi. Tersisa 10 menit lagi untuk jam mata pelajaranku. Tiba2
terdengar suara dari salah satu muridku, “bu amel, mau tanya”
“iyaa,,
tanya apa??” jawabku
“bahasa
inggrisnya aku cinta kamu apa bu??” tanyanya menjebakku
Aku
tau maksud dari anak itu, dan aku hanya tersenyum sembari berkata
“ i
love u..”
“i
love u too buuu cantikk... hahaha” jawab anak itu dan suasana kelas menjadi
sangat gaduh.
Aku
melihat jam tanganku, sudah waktunya aku keluar dari kelas ini. Akupun
merapikan kertas yang berserakan dimeja dan bergegas keluar.
Bel
sekolah berbunyi, menandakan kalau kegiatan belajar mengajar disekolah ini
sudah selesai. Aku masih berada di ruangan kantor dan merapikan mejaku.
Kemudian, aku bergegas keluar dan kulihat sekolah ini sudah sepi. Kulihat mbak
dian berdiri didepan mobilnya dan menarikku untuk masuk ke mobilnya.
“pokoknya
hari ini kamu gak boleh nolak lagi” ucap mbak dian
Ternyata
mbak dian mengantarkanku pulang ke kontrakanku dan dia langsung pergi. Mbak
dian memang gak tega jika harus melihatku pulang naik bus umum. Dia selalu
ingin mengantarkanku pulang, meskipun aku selalu menolak.
Sampai
di rumah, aku mengeluarkan ponselku dan membuka chat di aplikasi bbm dan
mengirimkan pesan kepada mbak dian.
“makasih
mbak dian.. aku selalu merepotkan mbakk”
Malam
ini aku hanya bergumul dengan kertas jawaban ulangan tadi pagi. Ada beberapa
jawaban yang membuatku tertawa sendiri.
“ada-ada
saja muridku ini..” gumamku sambil memegang kertas ulangan
Setelah
semuanya selesai, aku merebahkan tubuhku ke kasurku dan berkata
“my
job is my life”
Aku
selalu bersyukur dapat mengajar di sekolah dan sesuai dengan impianku dari
kecil, yappp.. english teacher.
.................
Hari
demi hari berlalu seperti biasa, tidak ada yang berubah di hidupku.. aku hanya
sibuk dengan mengajar dan meluangkan waktu di hari minggu untuk jogging. Tak
terasa sudah setahun aku mengajar. Dan sekarang aku menjadi walikelas untuk
anak kelas 3. Aku sedikit kerepotan ketika anak2ku meminta tambahan jam untuk
bahasa inggris. Bukannya aku tidak mau, namun semenjak aku menjadi wali kelas
3, waktuku terkuras habis. Selain karena mempersiapkan untuk ujian akhir, aku
juga sering rapat dengan kepala sekolah untuk melaporkan perkembangan kelas.
Dan dimalam hari aku juga masih sibuk. Sering anak2ku sms atau telpon jika ada
masalah dikelas. Itu yang membuatku stress. Maklum, disekolah itu banyak anak
yang membuat genk sendiri2. Bahkan dalam satu kelas, terdiri dari beberapa
genk. Terlebih untuk anak perempuan.
Hari ini aku sudah berada disekolah lebih awal
dari hari biasanya. Ini adalah hari ujian akhir yang diselenggarakan pemerintah
secara serentak. Sebelum ujian dimulai, kami para guru harus brefing dengan
guru tamu dari luar agar mereka dapat lunak ketika mengawasi ujian. Beberapa
jamuan pun sudah disiapkan. Hari pertama sampai hari ke tiga ujian berjalan
lancar. Beberapa minggu terakhir, sekolah menjadi sepi. Karena anak kelas 3
sudah jarang yang ke sekolah. Kalaupun ada, cuma untuk main dan mendapatkan uang
saku saja. Akupun merasa sedikit santai dan hanya ke sekolah 3 hari dalam
seminggu.
Sampai
pada liburan akhir semester, aku dan mbak dian memutuskan untuk liburan ke
puncak. Mbak dian dan aku memang sudah merencanakan sejak lama untuk berlibur
ketempat ini. Akhirnya kesampaian juga.
Selama
setahun mengajar, aku belum pernah berlibur selama tinggal dijakarta. Begitupun
dengan mbak dian. Aku dan mbak dian sudah seperti saudara. Mbak dian sangat
baik padaku.
Sampai
di hotel tempat kita menginap, aku merebahkan tubuhku diranjang hotel. Wow,
kamar ini sungguh nyaman dan mewah. Mbak dian mempersiapkan liburan dengan
sangat spektakuler. Semua akomodasi selama kami berlibur, mbak dian yang
mengaturnya. Karena macetnya jalan tadi, kami sampai disini sore hari. Dan
malam ini kami memutuskan besok pagi untuk menikmati suasana tempat ini.
Pagi-pagi
sekali mbak dian membangunkanku.
“mel..
bangun... ayo kita liat sunrise..”
“ii-iyaa
mbak.. duluann.. ntar aku nyusull...” jawabku dengan suara masih mengantuk
Terdengar
suara pintu dan mbak dian keluar sendirian untuk melihat matahari terbit. Namun
aku masih diatas ranjang dan menikmati hangatnya selimut ditubuhku. Aku
tertidur kembali. Setelah beberapa menit, aku tersadar dan melihat jam diatas
meja menunjukkan angka 8.00. dengan perasaan kaget aku bangun dan mencuci muka
kemudian segera keluar kamar. aku berjalan ke restoran hotel dan melihat mbak
dian sudah berada disalah satu meja. Hotel ini memang memiliki letak yang
strategis karena dari sisi restoran ini, kami dapat melihat indahnya panorama
tempat ini.
“baru
bangun kamu mel??” tanya mbak dian ketika melihatku berjalan kearahnya
“iyyaa
mbakk, abisnya enak banget molor dikasur... hehehe” jawabku sambil menggaruk
kepala
“ketinggalan
sunrise kamu mel, udah lewat..” ucap mbak dian
“yahh...
gak bisa liat sunrise deh.. ” jawabku kecewa
Aku
duduk didepan mbak dian dan ternyata mbak dian sudah memesan sarapan untuk kami
berdua.
Setelah
kami menghabiskan sarapan kami, aku dan mbak dian kembali ke kamar hotel untuk mandi.
Setelah
semuanya siap, kami berjalan keluar hotel untuk meng-explor tempat ini.
“udaranya
seger banget ya..” tanyaku pada mbak dian
“iyyaa
mel... beda sama jakarta.. penuh polusi..”
Tiba2
ada 2 orang pria menghampiri kami..
“haiii...”
sapa salah seorang pria itu
“haloo...”
jawab mbak dian
Sementara
aku dan pria satunya hanya terdiam.
“kenalin,
gue reno... ini temen gue rian...” sambil mengulurkan tangannya pada kami
“gue
dian, ini amel...” mbak dian memperkenalkanku
Sementara
mbak dian asyik mengobrol dengan reno. Aku dan rian hanya diam dan melihat
keadaan sekitar. Kelihatannya mbak dian cocok sama reno, mereka sama2 klop dan
asik ngobrol meskipun obrolannya gak penting. Aku melihat mereka saling
bertukar nomor hp dan seketika itu aku melihat kedua insan itu tersenyum lebar.
Mungkin mereka fallin in love pada pandangan pertama.
Reno
adalah pribadi yang ramah dan gampang bergaul. Secara fisik, reno sangatlah
keren dengan perawakan tinggi, tegap dan potongan rambut mirip seperti choco
jericko. Sementara rian, aku tidak bisa menebak seperti apa kepribadiannya,
namun secara fisik rian tak kalah keren dengan reno. Mereka berdua seperti
atlit basket yang tinggi besar.
Sampai
akhirnya kami berempat berlibur bersama seharian ini. Bisa dibayangkan mbak dian
sama reno sudah seperti orang kasmaran. Sementara aku dan rian hanya diam dan
menjadi saksi bisu reno dan mbak dian. Setelah capek seharian ini, kami memilih
pulang ke hotel masing2.
“ehemm...
ciiee yang lagi kasmaran...” ucapku menggoda mbak dian
“ahh
kamuu ini mel... bisa aja” jawab mbak dian yang masih sibuk dengan ponselnya.
Aku
melihat, mbak dian begitu bahagia saat bertemu dengan reno. Mungkin sudah
saatnya mbak dian menemukan cinta sejatinya. Pikirku dalam hati. Kami pun
beristirahat malam ini.
Pagi
ini kami kembali berlibur ke tempat lain yang ada disini. Mbak dian sudah
memberitahuku kalau kita akan pergi berempat. Siapa lagi kalo bukan reno dan
rian. Yahh... sepertinya mbak dian sudah terkena sindromnya reno. Apapun mereka
selalu berduaan dan menempel.
Saat
ini kita berada disalah satu tempat makan diluar hoteldan kami duduk berempat.
Tiba2 mbak dian dan reno berdiri bersama2.
“mel,
hari ini kita mau jalan2 berdua ya... kamu sama rian gapapa kan??” tanya mbak
dian
“bro...
gue mau berduaan dulu, elu jagain amel ya... ” pinta reno pada rian
Kami
berdua sama2 melotot kearah mereka berdua, apa yang ada dipikirannya
coba?? Aku ditinggal dengan orang
sedingin rian??? Tidakk... tidak... ini tidak mungkin,.. namun mbak dian dan
reno masuk ke mobil mbak dian dan meninggalkan kami berdua.
Aku
merasa canggung harus memulai percakapan dengan rian. Akhirnya kami hanya
terdiam sampai selesai makan.
“lo
mau kemana??” tanya rian ketika aku sudah berada dimobilnya
“aa-akkuu..
terserahhh..” jawabku pasrah
“okee
kalo gitu... ” jawab rian lagi
Tiba
di salah satu tempat wisata, aku dan rian turun dari mobil.
“curug
kembar puncak ” gumamku sambil melihat plang diatas sebelum kami masuk.
Kami
harus jalan kaki untuk bisa sampai di tempat tujuan. Jalannya berbatuan dan
sedikit licin. Rian berjalan didepanku dan sesekali aku tertinggal jauh karena
aku takut kalau tergelincir. Sampai tiba di air terjun itu, aku melihat betapa
indahnya air terjun dan panorama sekitar. Terlihat banyak orang yang
mengabadikan moment ini dan tak sedikit yang menyelam dan mandi di bawah air
terjun itu. Aku mengeluarkan ponselku untuk memotret indahnya pemandangan
tersebut. Tidak lupa akupun selfi dan rian hanya melihatku seperti meledek.
“kekanak-kanakan”
gumam rian sambil melihat kearahku
Aku
langsung melotot dan melihat ekspresi rian yang menyindirku. Seketika aku tau
sifat rian, dasar orang yang dingin. Gumamku dalam hati.
Rian
berjalan sendiri entah kemana, sementara aku hanya berdiri dan melihat orang2
yang sedang mandi dan menceburkan dirinya ke air itu. Aku merasa senang karena
dapat melihat pemandangan yang indah ini, meskipun bersama orang yang seperti
es itu. Sungguh dingin sekali orang itu, seperti es dikutub utara.
Sudah
setengah jam rian meninggalkanku sendirian disini, aku tidak melihat tanda2nya
lagi. Aku merasa gelisah dan tak tau harus kemana mencari orang itu. Akhirnya
aku memutuskan untuk menunggunya lagi selama setengah jam, jika masih tidak ada
tanda2 kedatangannya, aku akan kembali ke mobil.
Setengah
jam pun berlalu, aku memutuskan untuk kembali ke mobil untuk menunggunya.
“isshh...
kemana orang itu... menyebalkan..” gumamku ketika berjalan keatas
Sampai
di parkiran mobil kami, ternyata dia ada didepan mobil sambil mengobrol dengan
warga sekitar. Sepertinya dia orang situ, cara berbicara mereka sudah akrab
sekali.
“udah
selesaii foto2nya??” tanya rian padaku
Aku
hanya mengangguk dan dengan raut muka sedikit kesal aku masuk ke dalam mobil.
Dimobil
aku mencoba mencairkan suasana dan mulai mengobrol dengannya.
“kamu
orang sini ya?? Kok ngerti bahasa sunda” tanyaku
“dulu..”
jawabnya singkat
“dulu??
Terus sekarang??” tanyaku penasaran
“sekarang
di jakarta.” Jawabnya masih dingin
“ohhh...”
aku hanya bisa mengeluarkan kata2 itu
Sejenak
suasana menjadi hening kembali dan waktu sudah sore. Aku membuka ponsel dari mbak dian, kalo dia
menungguku ditempat makan tadi. Rian juga membuka ponselnya, sepertinya reno
juga sms rian.
“kita
ditunggu di tempat makan tadi” ucapku pada rian
“hmm...”
jawabnya cuek
Aku
tidak mengerti, mengapa dia begitu cuek dan dingin. Apa dia seperti itu pada
semua orang? Terus siapa yang betah pacaran sama orang sedingin itu?? Tanyaku
dalam hati.
Akhirnya
kami sampai ditempat kami bertemu pagi tadi. Aku menghampiri mbak dian yang
sudah menungguku disana.
“gimana
liburannya??” tanya mbak dian
“seneng
mbak... kami tadi ke curug kembar.” Jawabku sambil tersenyum
“syukurlah..
kamu gak diapa2in kan sama rian.??” Tanya mbak dian menggodaku
Aku
mengernyitkan kening dan melotot pada mbak dian. Diapa2in?? Orang sedingin es
gitu?? Ngomong aja males. Jawabku dalam hati
“enggak
lah mbak” jawabku
“eh
bro... gimana jalan2nya sama neng cantik??” tanya reno pada rian
“biasa
aja” jawab rian cuek
Aku
yang mendengar jawaban rian spontan langsung melihat kearahnya. Biasa aja??
Emang sih biasa aja, tapi setidaknya dia bilang seneng kek atau apa gitu.
“ahh
elu ya bro, dari dulu kalo jalan sama neng cantik jawabnya pasti gitu” ucap
reno
“udahlah
ren, biarin aja si rian... jangan digodain terus..” mbak dian menengahi
pembicaraan mereka
“mel,
aku ada berita gembira..” ucap mbak dian padaku
“apaan
mbak?” tanyaku penasaran
“kami
berdua udah resmi pacaran.” Jawab mbak dian sambil memegang tangan reno
Aku
sedikit terkejut dengan pernyataan mbak dian. Lalu aku hanya tersenyum pada
mbak dian.
“ren..
kita besok udah balik ke jakarta.. ” ucap mbak dian dengan wajah sedih pada
reno
“gue
juga mau balik besok.. apa kita bareng aja gimana?” tanya reno
“boleh..”
jawab mbak dian gembira
“bro...
gue besok balik satu mobil sama dian ya,, lo satu mobil sama amel. Gapapa
kan??” tanya reno pada rian
Aku
spontan kaget dan membelalakkan mataku pada reno. Apa???? Satu mobil sama si
kutub utara??? Gumamku dalam hati.
“gila
lo... enggak ah” jawab rian spontan
“pliss
lah bro... demi gue... pliisss... ” pinta reno memelas
Aku
melihat rian menghela nafas panjang dan gak tega melihat sahabatnya meminta
seperti itu.
“ahh...
elu ya... oke deh. Gak tega gue liat muka melas lo.” Jawab rian akhirnya setuju
Mbak
dian dan reno pun senang, sementara aku dan rian terlihat gelisah. Apa aku
harus berkorban demi mbak dian?? Tapi mbak dian udah baik banget sama aku. Gak
mungkin aku bikin rencana mereka batal kan?? Banyak yang aku pikiran daat ini.
Aku hanya bisa menerima semua itu.
.................
Akhirnya
kami harus kembali ke jakarta pagi ini. Dua mobil sudah ada didepan hotel kami.
Reno dan mbak dian naik mobilnya mbak dian, sementara aku akan naik mobil
mr.kutub, si rian.
Kami
pun sudah berada di mobil masing2 dan segera meluncur. Kebayang kan suasana
mobil saat ini?? Kalo mobil mbak dian sih pasti mereka sedang mesra2an
sekarang. Lah kalo aku?? Berbanding terbalik. Aku dan mr.kutub tidak saling
bicara. Kami berdua hanya mendengarkan musik yang diputar rian. Ternyata dia suka lagu luar, seperti
one direction, cristina perry, dll.
Udara
saat itu masih sejuk, dan tiba2 terpikir dibenakku untuk tidur. Yaa... mau apa
lagi kalo nggak tidur?? Rian juga gak ngajak ngobrol aku. Pikirku dalam hati
Sampai
tiba dirumah mbak dian, reno dan rian istirahat sejenak untuk melepaskan penat
saat perjalanan tadi. Mbak dian menyuruhku untuk menginap malam ini dirumahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua (reno & rian) pulang. Akupun segera
menuju salah satu kamar yang kosong dirumah ini. Mbak dian tinggal sendirian
disini, hanya dengan satu pembantu yang dibawanya dari kampung.
Akhirnya
aku beristirahat malam ini dirumah mbak dian. Saat pagi tiba, aku terbangun dan
tersadar oleh suara dari dapur. Aku melihat mbak dian dan simbok sedang
menyiapkan sarapan.
“pagii
mell..” sapa mbak dian ketika melihatku
“pagii
mbakk...” jawabku masih mengantuk
“duduk
situ dulu, aku siapin sarapan.” Ucap mbak dian
Tak
berselang lama, mbak dian membawakan 2 porsi nasi goreng. Masih hangat dan
wanginya begitu menggoda.
Kamipun
sarapan dengan lahabnya. Setelah selesai, aku berusaha bicara pada mbak dian,
agar aku bisa cepat pulang.
“emm...mbak..
kayaknya aku harus pulang deh..”
“buru2
amat mel.. sini aja dulu..” jawab mbak dian
“tapi
mbak, 2 hari lagi kita harus masuk kerja lagi kan..” ungkapku
“iya
kan masih ada 2 hari,.. hehehe” jawab mbak dian
“tapi
ada banyak yang harus aku kerjakan mbak.. aku juga belum persiapkan semuanya..”
aku berusaha meyakinkannya
“hmm...
oke deh kalo itu maumu.. nanti sore aku anterin pokoknya.”
Aku
mengangguk senang. Akhirnya aku bisa meyakinkan mbak dian.
Akupun
pulang kontrakanku ini, meskipun kecil tapi disinilah tempatku. Aku merasa
sudah lama meninggalkan rumah ini.
............
Hari
senin tiba, tahun ajaran baru. Seperti biasa aku naik bus untuk ke sekolah.
Terlihat banyak murid baru yang berjajar untuk mendapatkan bimbingan MOS. Ya
masa orientasi siswa. Namun kali ini aku tidak ikut upacara pelepasan MOS
tersebut. Aku langsung ke mejaku dan menyapa beberapa guru lainnya. Jam 8.00,
pak kepsek mengumpulkan semua guru untuk rapat. Seperti biasa, aku dan guru
lainnya mendapatkan jatah menjadi wali kelas. Kali ini aku mendapat menjadi
wali kelas 1. Aku menghelas nafas dan merasa lega. Pasti tahun ini tidak akan
sesibuk tahun kemarin.
“apes
mell..” mbak dian mendekatiku
“dapet
kelas 3 ya mbak??” tanyaku menggodanya
Mbak
dian mengangguk pelan dan kelihatannya pasrah. Bel masuk pun berbunyi. Kami pun
bergegas masuk ke ruang kelas masing2.
Seperti
hari pertama mengajar kembali, aku memperkenalkan diri sebagai wali kelas.
“selamat
pagiii..” ucapku mengawalinya
“selamat
pagi buu...” jawab anak2 itu serempak
“oke...
kali ini saya akan memperkenalkan diri pada kalian. Karena saya adalah wali
kelas kalian...”
Terlihat
banyak anak yang antusias dan senang ketika mengetahui bahwa wali kelasnya
adalah saya.
“nama
saya amelia putri, bisa dipanggil bu amel. Saya guru bahasa inggris. Dan umur
saya 25 tahun.”
“status
buu???” teriak salah satu murid dari belakang
“status???
Saya belum menikah dan single.” Jawabku tersenyum
“Apa
ada lagi yang ditanyakan??” tanyaku
“nomor
hp bu??” terdengar suara itu
Aku
menuliskan nomor hp dipapan tulis dan sebagian dari mereka mencatatnya.
Kemudian
aku memanggil satu persatu muridku untuk memperkenalkan dirinya masing2.
Setelah itu kami membentuk struktur organisasi kelas dan sebagainya. Sampai akhirnya
aku selesai dan pulang seperti biasa.
Beberapa
bulan kemudian, aku masih menjalani hari2ku dengan happy2 saja. Aku senang
dengan kesibukanku saat ini. Dan apa kabar mbak dian dan reno? Aku jarang
bertemu mbak dian disekolah karena saat ini dia menjadi wali kelas 3, mungkin
mbak dian sibuk. Terlintas dipikiranku untuk menelfonnya.
“malem
mbak... ” suaraku dari sini
“iya
mel... malem juga,.. kangen ya sama aku??” mbak dian menjawab
“iya
nih mbak... oh ya, mbak dian sama reno gimana kabarnya?” tanyaku penasaran
“kamu
kepo ya... iya alhamdulillah kami masih baik2 aja kok mel. Bahkan dalam waktu
dekat, kami akan berkomitmen dalam satu ikatan. hehehe” jawab mbak dian
“ohh
ya... mbak dian gimana sih gak ngasih tau aku??” aku sedikit merajuk
“ini
kan udah dikasih tau mel... oh ya,.. reno itu bekerja di perusahaan papanya
rian mel. Kamu masih ingat rian gak??” tanyanya
“rian??
Ohhh iya mbakk... ” jawabku sedikit berpikir
“ternyata
rian anak orang kaya mel, coba deh kamu deketin rian. ” ucap mbak dian diseberang
sana.
“yeee
mbak dian mah gitu...emang aku gila orang kaya apa??” jawabku
“ya
kan siapa tahu dia suka sama kamu mel.. atau aku comblangin ya??” mbak dian
terus menggodaku
“ehhh...
gak mauu mbakk... emang apaan dicomblangin?? Gak gak.. pokoknya gak mau..”
ucapku menolak
“harus
mau. Pokoknya ntar biar aku sama reno yang ngatur. Kalian berdua sama2 jomblo,
mau tunggu apa lagi coba??”
“tapiii
mbakkk.....”
Tuuutt
tuutt tuutt . terdengar suara itu dan telepon pun terputus.
“isshhhh...
apa2an mbak dian?? Pake comblangin segala” gumamku kesal
............
Malam
ini malam minggu, seperti biasa aku hanya duduk dan bersantai kamarku. Tiba2
terdengar suara dari arah ponselku. Kulihat tertera nama “mbak dian”
“iyyaa
mbak... ada apa??” tanyaku
“kamu
kesini bentar ya. Cafe tempat biasa kita ketemu. Aku tunggu sekarang. ” ucap
mbak dian diseberang sana
“aaa-akkuu....”
belum sempat menjawab, namun teleponnya sudah terputus.
“
isshh... emang ada apa sih...” gumamku kesal
Sampai
ditempat yang sudah ditentukan, aku menunggu disalah satu meja yang masih
kosong. Aku pun mengirimkan beberapa sms pada mbak dian, kalo aku sudah sampai.
“tunggu
15 menit lagi aku sampai. ” sms mbak dian
Aku
menghelakan nafas sambil meminum jus yang sudah aku pesan. 10 menit berlalu, namun
tidak ada tanda2 mbak dian disini. Terdengar suara sepatu menuju kearahku. Aku
mendongakkan kepalaku dan melihat sosok pria yang memakai jas rapi sudah
berdiri didepanku.
“riii-riiann...”
gumamku kaget menyadari keberadaannya
“ada
apa lo nyuruh gue kesini??” tanya rian sembari duduk dikursi
“guu-guee??”
tanyaku berbalik heran
“iiyaa...
lo kan yg nyuruh gue kesini.. kata reno ada hal penting yang mau lo omongin”
jawabnya cuek
“kok
guee?? Denger ya... gue kesini itu karna disuruh mbak dian.. tapi gue juga gak
minta lo kesini. ” jawabku kesal
Gaya
bicaraku sekarang udah seperti anak jakarta, kalo ngomong sama orang jakarta
emang sering pake lo-gue.
Aku
melihat rian mengeluarkan ponselnya, mungkin dia akan minta penjelasan pada
reno.
“lo
apa2an sih?? Rencana lo apa bikin gue kesini. ” suara rian terdengar marah
“sialan
lo,,” kemudian rian menutup ponselnya.
“ada
apa ??” tanyaku penasaran
“sialan..
kita dikerjain sama reno dan dian..” jawabnya kesal
“terus
gimana??” tanyaku kembali
“ya
terus kita makan.. gue laper...” jawabnya sinis
Aku
dan rian seperti orang asing yang baru bertemu, bahkan sampai kami berdua selesai
makan. Kami tidak mengobrol, hanya terdiam dan tidak berani menatap.
“rumah
lo dimana??” tanya rian mengagetkanku
“apaa??”
“lo
tinggal dimana?? Biar gue anterin. Udah malem, bahaya kalo lo pulang sendirian.
” jawab rian
“guu-guee tinggal deket sini kokk... ” jawabku pelan.
Tiba2
rian menggandeng tanganku dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Aku merasa
seperti ada aliran listrik 1000 volt menyetrum tubuhku saat ini. Aku menjadi
tegang dan jantungku berdegup sangat kencang.
Dimobil,
kami berdua hanya terdiam... aku hanya berbicara sedikit menunjukkan arah
rumahku. Terdengar bunyi dari saku jas rian, sepertinya ponselnya berdering.
“iii-iyyaa...
aku akan kesana mah..” jawab rian dengan muka yang berubah menjadi cemas
“ada
apa??” tanyaku penasaran
“bokap
gue kumat lagi.. ” jawabnya cemas
“yaudah
buruan lo ke rumahsakit, bokap lo butuh lo saat ini ” ucapku mencoba perhatian
“terus
lo gimana??” tanya rian
“turunin
aja dihalte depan, gue bisa pulang sendiri kok..” jawabku
“gak
gak.. gue anterin lo dulu.. baru ke rs” jawab rian menolak
“kelamaan
rian.. lo harus bolak balik kalo nganterin gue... ” ucapku lagi
Rian
terlihat berpikir sejenak, dan mencoba mencari jalan keluar
“lo
gapapa kalo ikut gue ke rs dulu?” tanya rian
Aku
hanya mengangguk, bukan apa2 yang ada dipikiranku, namun aku juga ikut
memikirkan ayahnya rian saat ini. Akhirnya kami berdua menuju rumah sakit
tempat ayah rian dirawat.
Sampai
tiba di rumah sakit, aku melihat wanita paruh baya menangis saat menunggu di
depan ruang ICU. Aku melihat rian memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
“gimana
mah, keadaan papah??” tanya rian kepada wanita itu
“papamu
masih belum sadar sayang... papamu terkena serangan jantung saat menerima
telepon dari salah satu stafnya..” jawab mama rian
Aku
hanya terdiam melihat adegan yang mengharukan ini. Ternyata rian orangnya
sayang banget sama orangtuanya. Meskipun dia selalu dingin terhadap orang lain.
Tiba2 mama rian menatapku, dan aku hanya tersenyum dan menatap wanita itu
dengan penuh rasa peduli.
“siapa
dia sayang??” tanya mama rian menatap kearahku
“temen
rian mah..” jawab rian singkat.
Kami
bertiga kemudian hanya duduk dan melontarkan doa, semoga ayah rian segera
sadarkan diri. Hampir 1 jam kami disini, aku melirik jamku menunjukkan angka
11.20, namun belum ada pemberitahuan dari pihak dokter. Tiba2 rian berdiri
didepanku dan berkata
“mel..
sebaiknya kamu pulang aja. Aku akan pesan taksi untuk mengantarmu pulang.”
Aku
hanya menatap rian dan mengangguk pelan.
“keluarga
pak atmaja??” suara dokter mengagetkan kami bertiga
“Iyyaa
dok... kami keluarganya” jawab rian mendekat ke dokter tersebut
“pak
atmaja sudah sadarkan diri.. silahkan kalian boleh masuk..” jawab dokter
Tiba2
rian menarik tanganku untuk ikut masuk ke dalam. Entah apa yang dipikiran rian,
tapi aku hanya diam dan mengikutinya.
“papah...
” rian mulai mendekat dan hampir menangis
Sementara
mama rian sudah menangis sejak kami belum datang tadi..
Aku
hanya melihat dan diam melihat adegan ini. Kupikir, ini bukan urusanku.
“rii-riaann...”
ucap papa rian
“iya
pah.. ini rian...” jawab rian menangis. Kali ini rian tidak dapat menahan
airmatanya lagi
“papahh
sudah ti-tiidak kuatt lagi nakk... perusahaan butuh kamuu..” ucap papa rian
“papahh
ingin melihat kamu memimpin perusahaan itu nakk.. kamu sudah waktunya
menggantikan papahh...” ucap papa rian kembali
“tapii
pah... rian belum siapp... ” jawab rian
“kamu
sudah waktunya menggantikan papahh nakk... dan kamu juga harus mencari pendamping
hidup.. karena kamu butuh keluarga dibelakangmu..” ucap papa rian
“tapii
pahh... aku belum memikirkan hal itu...” jawab rian merengek
“wanita
ituu... suruh dia mendekatt pada papahh..” tangan papa rian menunjuk kearahku
Akupun
mendekat ke papanya rian. Dengan perasaan takut dan tegang, aku berusaha untuk
tenang
“siapa
namamu nak??” tanya papa rian sambil memegang tanganku
“amell
omm..” jawabku pelan
“rian...
menikahlah dengan dia... sepertinya dia orang yang pas untukkmu... ” ucap papa
rian sambil menyatukan tangan kami berdua
Sontak
aku dan rian kaget dan melotot saling menatap.
“tapii
pah.... diaa.....” jawab rian mencoba menjelaskan kepada papanya
Tiba2
terdengar suara “”tuuuuuttttttttt” dari alat pembaca detak jantung..
Astaga,
suasana apa ini?? Menikah?? Dengan rian???
“dokter
dokter...” teriak rian sekencang-kencangnya..
Dokterpun
datang dengan dua orang perawat masuk keruangan ini. Kami bertiga keluar
ruangan dengan penuh rasa khawatir dan cemas.
Terdengar
mama rian menangis dengan sangat kencang. Aku mendekat dan mencoba menenangkan mamahnya
rian.
“tenang
tante... semua akan baik2 saja..” ucapku pelan sambil memeluk wanita paruh baya
itu
Dokter
keluar dan menghampiri kami.
“gimana
dok??” tanya rian
“maaf..
kami tidak dapat menolong pak atmaja” jawab dokter
Sontak
mama rian langsung menangis lebih kencang dari sebelumnya. Tak terasa akupun
ikut menangis, meskipun tidak mengeluarkan suara seperti mama rian.
Aku
melihat rian kacau dan sangat sedih saat ini. Rian yang aku kenal dingin dan
cuek, saat ini dia sama seperti orang biasa. Rapuh dan lemah.
Aku
menghampiri rian dengan penuh simpatik dan berdiri didepannya.
“rian...
kamu yang sabar ya..” ucapku pelan
Namun
aku tidak mendapatkan jawaban apapun dan tiba2 kedua tangan rian memelukku
dengan erat. Rian memelukku dan menangis dipelukanku. Akupun hanya bisa
menepuk-nepuk punggungnya dan berkata
“kamu
harus kuat rian...”
Setelah
beberapa menit, rian melepaskan pelukannya padaku. Dia terlihat malu dan tidak
berani menatap mataku.
Aku
mengeluarkan ponselku dan menelpon sahabatku.
“mbak...
papanya rian meninggal... aku dirumah sakit sekarang..”
“oke
mbakk... aku tunggu” kalimat terakhir dari mulutku sebelum menutup ponselku.
Aku
memberitahu mbak dian, dan spontan mbak dian bilang dia akan datang.
Rian
terlihat sibuk mengurusi kematian ayahnya sementara aku dan mamanya rian hanya
duduk sambil menangisi kepergiannya.
Setengah
jam kemudian.. mbak dian dan reno datang bersamaan. Aku melihat mbak dian duduk
disamping sisi sebelah lainnya dari mamanya rian. Kami berdua berusaha
menenangkan wanita itu.
“rian
dimana mel?” tanya reno padaku
“dia
lagi ngurus keperluan administrasi” jawabku
Tak
berselang lama, rian muncul. Reno pun langsung memeluk sahabatnya itu. Terlihat
jelas kesedihan diwajah rian. Setelah semua keperluan selesai, aku dan mbak
dian memutuskan untuk pulang. Mamanya rian juga pulang dengan mobil dan
supirnya. Sementara rian dan reno dirumahsakit sampai besok pagi.
Pagi
ini aku dan mbak dian sudah berada di rumah rian. Setelah pemakaman selesai,
rumah rian mulai sepi dari para pelayat. Yang ada hanya aku, mbak dian, reno,
rian dan mamahnya. Semua pelayat sudah pulang. Dan kamipun bersiap pamit juga
untuk pulang.
“kami
pulang dulu ya tante” ucapku pelan
“iya
nakk... terimakasih atas semuanya..” jawab mamanya rian
Aku
hanya mengangguk dan tersenyum dan langsung pulang.
Beberapa
hari kemudian...
Setelah
kejadian beberapa hari yang lalu, aku tetap menjalani kesibukanku dengan
mengajar. Masih teringat jelas kesedihan rian kala dirumahsakit. Betapa
rapuhnya rian sebenarnya. Sambil terus menikmati kopiku, aku melihat ponselku
berdering. Nomor baru. Pikirku dalam hati
“iya
halo.. siapa ini?” tanyaku sopan
“ini
gue rian...” jawabku kembali seperti biasa
“ada
apa??” tanyaku lagi
“lo
dimana sekarang??”
“gue
lagi di cafe tempat dulu kita ketemu” jawabku seadanya
“lo
bisa kerumah gue sekarang gak? Mamah mau ngomong sama lo”
“mamahmu
mau ngomong??” tanyaku tak percaya
“iya.
Buruan kesini. Gue tunggu. ” jawab rian dan langsung mematikan ponselnya
Aku
masih bingung, untuk apa mamanya rian nyuruh aku kesana?? Apa ada masalah yang
serius?? Pikirku dalam hati
Aku
langsung bergegas dan naik taksi yang lewat didepanku. Sampai tiba di rumah
rian yang sangat megah, aku masih menyimpan beberapa pertanyaan diotakku.
“tante...”
sapaku pelan
“amel...
sini duduk sayang...” jawab mamahnya rian
“ada
apa tante??” tanyaku penasaran
“oke..
karena kalian berdua sudah ada, tante akan langsung bicara ke pointnya saja.
Begini, sesuai dengan permintaan papanya rian sebelum pergi, kalian diminta
untuk menikah. Dan sekarang tante ingin memilih tanggal pernikahan kalian.”
Jelas mamanya rian
“menikah???”
teriakku dan rian bersama2
“iyaa
menikah... kalian gak lupa kan??” ucap wanita itu
“tapii
mahh... aku sama amel gaada hubungan apa2 mahh..” jelas rian
Aku
hanya terdiam dan masih tak percaya tentang apa yang diungkapkan mamahnya rian.
“tapii...
itu permintaan terakhir papamu kan sayang??” ucap mamahnya
Rian
terlihat berpikir keras dan mencari cara agar pernikahan ini tidak terjadi.
“mah...
tapii amel belum tentu mau kan nikah sama rian??” tanya rian kepada mamanya
“nak
amel... kamu mau kan nikah sama rian??” ucap mamahnya rian sambil memegang
tanganku
Aku
hanya diam dan tak tau harus berbuat apa. Tiba2 rian menarikku dan sontak aku
berdiri dan mengikutinya
Rian
menarikku menuju tempat disudut ruang tengah yang tidak terlihat oleh mamanya.
“mel,
maafkan aku. Gara2 aku kamu harus terjebak dalam situasi seperti ini. ” ungkap
rian.
“rian,..
aku harus gimana??” tanyaku cemas
“mel,
ini keputusan yang berat untuk kita. Tapi, aku gak mau membuat mamah kecewa.
Kamu mau gak menikah denganku? Kita menikah kontrak.”
“apa
kamu sudah gila?? Aku gak bakal mau nerima ide gilamu itu.” Jawabku marah
“mel,
denger dulu,.. kita nikah cuma buat mamahku seneng dan papaku juga tenang
disana. Setelah kamu mendapatkan pria idamanmu, aku akan menceraikanmu. Tenang
aja, kamu bakal dapat harta yang pantas sebagai istriku.” Jelas rian panjang
“aku
bukan wanita seperti itu rian,.. aku bukan gila harta dan mengorbankan
pernikahan untuk mendapatkannya” jawabku tegas
“mel,
aku mohon mel... kalo begitu lakukan demi papaku mel...” pinta rian
“rian...
jangan seperti ini rian... ini situasi yang sulit bagiku..” jawabku
“kalo
gitu percaya sama aku mel, aku akan menghormatimu dan tak akan berbuat aneh2
padamu..” jawab rian
Aku
menghela nafas panjang dan mengangguk pasrah.
“makasih
ya mel... aku janji ini akan mudah bagi kita. Ini hanya pernikahan secara
tertulis saja.”
Akhirnya
kami berdua kembali ke ruang tengah tempat mamahnya rian menunggu kita.
“mah...
aku udah memutuskan hal ini. Kami berdua menerima pernikahan ini.” Ucap rian
Terlihat
jelas wajah bahagia pada wanita paruh baya itu.
“oke...
sekarang kita tentukan tanggalnya” ucap mamahnya rian
................
Aku
masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Aku akan menikah bulan
depan?? Oh tuhan... pernikahan adalah hal yang sangat penting dan sakral
bagiku. Bisakah aku menikah dengan seseorang tanpa dilandasi rasa cinta??
Aku
terus memikirkan hal itu. Saat ini aku hanya bisa pasrah kepada tuhan. Sambil
melirik jam ditanganku, aku tau ini sudah waktunya aku pulang dari sekolah.
Sedari tadi aku hanya bisa melamun dimeja kantor guru. Aku bergegas keluar dan
berjalan pelan menuju halte bus. Namun aku menghentikan langkahku ketika
melihat sosok pria yang aku kenal.
“rii-riann??”
gumamku pelan
“lama
sekali kau keluar.. aku sudah setengah jam menunggumu disini. ” ungkap rian
“apa
yang kau lakukan disini??”
“mamaku
menyuruhku untuk mengantar jemputmu setiap hari. ” jawab rian singkat
Aku
masih belum percaya dengan apa yang dikatakan rian. Mengantar jemput setiap
hari??? Apa-apaan in?? Pikirku
Akhirnya
tanpa banyak omong, aku masuk ke mobil rian.
“mel,
mulai sekarang kamu harus terbiasa denganku. ” ucap rian memecah keheningan
“apa
maksudmu??” tanyaku
“kita
harus membuat ini semua seperti tanpa ada tekanan dan rasa canggung. Aku tidak
mau mama sampai curiga pada kita.” Jelas rian
Aku
hanya mengangguk dan diam. Aku mengerti apa yang dimaksudkan rian.
............
Hari-hari
terus berjalan seperti biasa. Pernikahanku akan tiba seminggu lagi. Dan hari
ini rian mengajakku untuk fitting baju dan memilih cincin pernikahan.
Pagi
ini aku tidak mengajar, aku sedang menunggu rian menjemputku. Setelah 20 menit
menunggu, akhirnya mobilnya sudah didepan rumahku. Aku langsung masuk ke mobil
rian.
“maaf
aku tadi ada tamu penting.” Ucap rian
“iya
gapapa...” jawabku pelan
“kamu
harus siap mel, seminggu lagi kita akan menikah.”
Aku
hanya menghela nafas dan menganggukkan kepala.
Setelah
seharian kami fitting baju dan memilih cincin, akhirnya aku dan rian pulang.
Tak ada kesan apapun.
........
The
wedding
Hari
ini adalah hari pernikahanku. Aku sudah berada di depan penghulu yang tidak
lain adalah ayahku sendiri. Ya, ayahku sendiri yang menikahkan aku. Aku
meneteskan air mata ketika melihat kedua orang tuaku. Aku tau ini bukan air
mata kebahagiaan, namun air mata kesedihan. Aku sudah membohongi orang tuaku.
Ini bukanlah pernikahan sebenarnya. Namun kulihat disampingku, rian yang
sekarang sudah resmi menjadi suamiku malah tersenyum seperti ini adalah hari
bahagia untukknya. Entah apa yang ada dipikiran rian, atau dia hanya ingin
sandiwaranya berhasil dan terlihat begitu natural.
Malam
ini resepsi pernikahan kami diadakan, terlihat banyak tamu yang datang dan
memberi ucapan selamat kepada kami. Namun, saat ini mataku terfokus pada wanita
yang sekarang berdiri didepan suamiku, wanita itu terlihat mesra dan ingin
selalu menempel pada rian. Aku tak bisa berbuat apapun, karena aku tidak berhak
marah dan mencampuri urusan rian. Aku sadar, kalau aku hanyalah istri diatas
kertas saja. Selebihnya kami hanyalah orang asing. Setelah resepsi pernikahan
selesai, kami beristirahat dikamar pengantin. Kamar ini sudah dihias sedemikian
rupa dengan warna dominan coklat. Begitu maskulin. Dimana-mana terlihat banyak
bunga menghiasi kamar ini. Aku tau, ini pasti ide mertuaku itu. Setelah selesai
mandi, aku dan rian bersiap untuk tidur. Namun ada masalah. Masalah apa??
“rian...
terus kita gimana tidurnya??” tanyaku cemas
“ya
tinggal tidur aja.. emang mau ditidurin?? hahaha” jawabnya menggodaku
“ah
riannn... aku serius nih... kamu mau tidur dimana??” tanyaku
“aku
tidur diranjang lah.. mau dimana lagi.” Jawab rian cuek
“ya
udah, aku disofa aja.” Jawabku sambil membawa bantal menuju sofa kamar ini.
“tunggu-tunggu...
kamu mau tidur disofa??” tanya rian
“iyalah...
aku disini aja gapapa..” jawabku
“eitss...
kamu pikir aku bakal begitu tega dengan seorang wanita?? Gaada yang bakal tidur
disofa. Semuanya tidur diranjang. ” tegas rian
“tapii.....”
gumamku
“udah
kamu tenang aja... aku janji aku gabakal nyentuh kamu sedikitpun. Kita udah
janji kan.” Ungkap rian
Aku hanya
mengangguk pelan dan tidur diranjang. Ranjang ini berukuran king size, kami
berada di sisi ujung ranjang masing-masing. Dan kami berdua seperti pasangan
suami istri yang sedang bertengkar. Aku merasa gelisah dan tak bisa tidur. Tak lama
kemudian, aku mendengar suara dengkuran dari arah rian. Pasti dia sudah tidur. Dan
aku baru lega dan bisa tidur setelah memastikan rian sudah terlelap.
Pagi
ini rian bangun lebih awal dari pada aku. Aku mendengar suara gemercik air dari
arah kamar mandi. Akupun bangun dan duduk ditepi ranjang. Terdengar suara pintu
dibuka dari arah kamar mandi. Rian keluar dengan sehelai handuk melilit
tubuhnya. Wow, kulihat rian begitu keren. Badannya begitu tegap dan terlihat perutnya
yang six pack. Aku merasa gemetar saat melihat rian telanjang dada. Perasaan apa
ini tuhan?? Gumamku dalam hati. Ternyata rian menyadari kalau sedari tadi aku
terus menatap dirinya. Dia pun membalas dengan menatapku dengan tajam. Aku langsung
memalingkan mukaku dan berpura-pura tidak melihatnya.
“ada
apa kau menatapku begitu??” tanya rian mengagetkanku
“ehhh...
enggakk...” jawabku gugup
“cepatlah
mandi dan turun, mamah pasti sudah
menunggu kita” ucap rian
Aku langsung
menuju kamar mandi dan segera mandi. Setelah selesai mandi, aku keluar dari
kamar mandi. Kulihat kamar ini sudah sepi. Tidak terlihat rian disini. Saat aku
mulai mengenakan pakaian, terdengar suara pintu terbuka. Sontak aku kaget dan
melihat kearah pintu.
“ehhh..
maaf... kupikir kau sudah selesai. ” ucap rian malu dan kembali menutup pintu
Apa yang
terjadi?? Apa?? Ahhh... ini memalukan... tapi kenapa harus malu?? Dia kan
suamiku?? Iya suamiku. Tapi kenapa aku merasa canggung?? Ya tuhan kenapa aku
ini..
Setelah
aku selesai berdandan, aku turun kebawah dan kulihat rian dan mertuaku sudah
ada di meja makan.
“pagi
sayangg... ” sapa mertuaku
“pagii
mahh..” jawabku senyum
“gimana
malam pertamanya??” tanya mertuaku to the point
“emm...
anuuu....” aku terbata-bata
“ah
mamah kenapa tanya begitu? Sudah pasti kami menikmatinya. Aku begitu bahagia
mah.” Sahut rian menjawab
Aku mengernyitkan
kening dan melotot kearah rian. Bahagia katanya?? Bahagia apanya?? Menikmatinya??
Menikmati apa coba?? Gumamku kesal dalam hati.
“bagus
deh kalo gitu sayang... mamah pengen gendong cucu soalnya..” ungkap mamah
Aku tersedak
saat mendengar ucapan mertuaku tadi. Cucu?? Omg hellooo... cucu dari hongkong..
“kami
akan usaha sekeras mungkin biar mamah cepet dapet cucu.. hehe” jawab rian
sambil melirik kearahku.
Apa maksudnya
coba?? Usaha?? Usaha apaan?? Terlihat rian begitu menikmati sandiwara ini.
Setelah
semuanya selesai sarapan, rian bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sedangkan aku
masih cuti dari seminggu yang lalu. Rian pamit kepada mamahnya. Dan sekarang
dia ada didepanku.
“aku
berangkat dulu ya sayang... ” ucap rian kemudian mengecup keningku.
Aku masih
berdiri dan kaget ketika rian mengecup keningku. Sayang?? Dia memanggilku
sayang?? Mungkin ini bagian dari sandiwara kami.
.........
Hari-hariku
berjalan masih sama seperti sebelum aku menikah, cuma bedanya sekarang setiap
berangkat dan pulang kerja aku diantar jemput oleh suamiku. Hari ini hari
pertama aku mengajar setelah kemarin cuti untuk menikah. Banyak yang memberiku
selamat, baik dari para guru ataupun muridku. Ada juga yang memberiku kado dan
diletakkan di mejaku.
“ciieee
pengantin baru...” goda mbak dian
“apaan
sih mbak... ” jawabku
“gimana
malam pertamanya??” goda mbak dian lagi
“rahasia”
jawabku sambil meninggalkan mbak dian menuju kelas mengajarku
Mbak
dian memang sukanya menggoda orang, apalagi seperti aku ini. Pengantin baru. Oh
iya, hubungan mbak dian dan reno masih lancar2 saja, dia juga akan menikah
dalam 2-3 bulan kedepan. Syukurlah, mbak dian mendapatkan orang yang sangat
dicintai dan mencintainya.
Akupun
masuk ke kelas 11 sesuai dengan jam mengajarku. Namun setelah beberapa menit
aku menjelaskan materi, terdengar ada 2 orang yang berjalan kearah kelas ini. Pak
kepsek dan seorang pria disampingnya.
“permisi
bu amel.. maaf mengganggu sebentar. Saya ingin memperkenalkan guru baru.silahkan
pak perkenalkan diri anda. ” ungkap pak kepsek
“nama
saya satrio pambudi, saya guru bahasa inggris.” Ucap lelaki muda itu
“nah
begini bu amel, sistem sekolah kita sekarang berbeda, masing2 kelas ada 2 guru
saat proses belajar mengajar. Dan pak satrio ini adalah pathner mengajar bu
amel.” Ungkap pak kepsek
“iya
pak,.. saya mengerti. ” jawabku pelan
Kalau
dilihat-lihat, pak satrio ini sepertinya berasal dari jawa. Kelihatan banget
dari logatnya dan mukanya juga kentara banget. Cukup ganteng dan keren. Aku bisa-bisa
jatuh cinta nih kalo mengajar berdua sama pak satrio.
“kalo
begitu saya permisi dulu pak,bu” pak kepsek meninggalkan kami berdua.
“oke,
kalo begitu kami akan bagi tugas dengan pak satrio. Saya akan menjelaskan
materi, sementara pak satrio akan membuat soal disela2 saya menerangkan. Mengerti??”
ucapku keras
“mengerti
bu..” ucap muridku serempak
Tak terasa
bel sekolah sudah berbunyi. Sudah waktunya kami selesai dan pulang. Seharian ini
kami seperti pasangan kekasih yang selalu berdampingan menuju kelas ke kelas.
“bu
amel pulang bareng siapa?” tanya pak satrio
“saya
dijemput suami pak..” jawabku
“ohh
kalau begitu saya pulang duluan bu..” pak satrio meninggalkan aku dengan wajah
cemberut, sepertinya dia kecewa mendapati aku sudah punya suami.
Aku menunggu
suamiku didepan sekolah. Aku terus melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan
angkan 2.30. sudah setengah jam aku menunggunya. Akhirnya aku memutuskan untuk
naik bus saja.
Sampai
dirumah, aku mandi dan istirahat sejenak. Kemudian aku menghabiskan waktuku
untuk menonton tv sampai malam. Terdengar suara mobil memakirkan dihalaman
depan. Pasti itu dia suamiku. Rian menghampiriku disofa dan duduk disampingku.
“kamu
tadi pulang naik apa??” tanya rian padaku
“naik
bus.” Jawabku cuek
Aku memang
kesal terhadap rian, karena aku harus menunggunya dan dia sama sekali gaada
kabar.
“kamu
marah sama aku?? Maaf ya... tadi aku sibuk banget. Ada meeting dikantor. Aku gak
sempat ngabarin kamu. Maaf ya...” pintanya
“iya
gapapa kok... aku udah biasa.” Jawabku masih cuek
Aku berdiri
dan berjalan menuju ke kamar.
“kalo
mau makan, udah aku siapin di meja.” ucapku pelan sambil terus berjalan
Malam
ini aku merasa sangat lelah dan berniat untuk tidur duluan. Aku tidur dan mulai
memejamkan mataku. Namun terdengar suara pintu terbuka. Rian menghampiriku.
“mel...
kamu udah tidur??” tanya rian yang berada disampingku
Aku tidak
menjawab dan pura-pura sudah tidur. Terdengar suara hembusan nafasnya yang
panjang. Namun aku tidak menghiraukannya.
Pagi
ini aku bangun sangat pagi dan pergi diam2 saat rian belum bangun. Aku memang
masih merasa kesal sama rian. Dan aku memutuskan untuk pergi ke sekolah
sendirian.
“pagi
bu amel” sapa pak satrio mengagetkanku
“pagi
juga pakk...” jawabku ramah
“kok
aku lihat bu amel naik bus pagi ini??” tanya pak satrio penasaran
“iya
pak... suami saya lagi sibuk... hehe” jawabku tersenyum tipis
“ohhh...
kalo gitu nanti kalo bu amel mau bisa pulang bareng saya aja..” tawarnya
“iya
terimakasih pak..” aku tersenyum
Seperti
biasa, kami berdua bersikap professional saat mengajar. Aku senang karena pak
satrio memiliki cara berpikir yang sama denganku. Sampai hari ini, kami belum
ada perbedaan pendapat.
“mari
bu kita pulang..” pak satrio menghampiriku
“iya
pak..” aku menerima tawarannya
Akhirnya
kami berdua pulang bersama dengan naik motor milik pak satria.
Sampai
dirumah, rumah ini begitu sepi. Mertuaku hanya menghabiskan waktunya dikamar. Aku
menuju kamarku dan mulai membersihkan tubuhku. Malam ini aku memilih mengoreksi
hasil ulangan tadi pagi. Tiba-tiba rian datang membuka pintu kamar.
“mel...”
“hmmm...”
“kamu
ngapain??” tanya rian
“kamu
liat aku ngapain??” jawabku ketus
“mel
kamu kenapa sih... tadi pagi kamu pergi diam2... terus pulang juga sama laki2
lain. Siapa dia??” suara rian meninggi
“bukan
urusan kamu.” Jawabku dingin
Aku berpikir,
kenapa rian tau kalo aku pulang bareng laki2?? Apa dia mengikutiku??
“itu
urusan aku mel... aku suami kamu...” rian membentakku
Aku langsung
merapikan kertas yang berserakan dimeja dan berdiri menuju tempat tidur.
“mel...
aku salah apa sama kamu?? Aku suami kamu mel... kamu gaboleh giniin aku...”
rian
“aku
gapapa kok.. aku ngantuk, mau tidur.” Jawabku pelan
Namun
rian menghampiriku dan menarikku untuk duduk didepannya.
“mel...
siapa laki2 tadi??” rian bertanya itu lagi
“bukan
urusan kamu. ” jawabku
“itu
urusan aku mel.. aku suami kamu...” suaranya meninggi lagi
“kamu
memang suamiku.. tapi pernikahan kita cuma sekedar tulisan dikertas. Kamu gak
berhak mencampuri urusan pribadiku” jawabku kesal
Rian
terdiam lama dan terlihat jelas kalau dia kecewa atas jawabanku tadi. Kemudian
dia meninggalkan aku dan pergi keluar kamar.
Sementara
aku tidur dan memejamkan mataku.
..............
Seperti
biasa, aku sudah bersiap berangkat ke sekolah. Kulihat rian dan mamah sudah ada
di meja makan. Kami bertiga hanya makan roti dan susu. Tak banyak yang kami
bicarakan di meja makan. Hanya pertanyaan yang gak penting.
Akhirnya
kami berdua pamit dan berangkat bersama menuju kantor. Rian tak banyak bicara. Dia
mengantarkanku pagi. Beberapa menit kemudian, kami sampai di sekolahku. Sebelum
turun rian berkata kepadaku
“tunggu
aku ya, aku akan menjemputmu. ” bisik rian
Aku hanya
mengangguk
Sampai
kegiatan mengajarku selesai, aku berjalan menuju depan sekolahku. Aku akan
menunggu suamiku. Pak satrio juga sudah menawarkan untuk mengantarku pulang,
tapi aku tetap menunggu suamiku. Aku tidak bisa menghubunginya karena ponselku
mati. Aku hanya bisa duduk dihalte dekat sekolahku. Tak terasa sudah 5 jam aku
menunggunya dan sekarang sudah jam 7
malam. Aku tak tau, kenapa aku tetap menunggunya. Tiba2 hujan turun sangat
lebat. Karena dihalte saat ini ada banyak orang, alhasil aku masih terkena air
hujan. Sampai halte ini sepi, tidak ada rian menjemputku. Jam 8 malam. Aku tetap
menunggunya. Entah apa yang ada diotakku, aku masih aja percaya sama rian. Sampai
aku berpikir untuk pulang naik bus nanti. Tiba2 mobil rian berhenti didepanku.
“kamu
ngapain masih disini??” tanya rian
“nungguin
orang yang katanya mau jemput aku pulang.” Jawabku kesal
Akhirnya
aku masuk ke mobil rian. Sampai tiba dirumah, aku tidak mengeluarkan sepatah
katapun. Aku langsung menuju kamar dan ganti baju karena bajuku saat ini basah.
“mel...
kenapa kamu masih nungguin aku.. kan aku udah sms kalo aku gabisa jemput kamu ”
ucap rian menghampiriku
Aku baru
ingat kalau ponselku mati. Aku tidak menjawab sepatah katapun. Aku langsung
tidur dan menarik selimut sampai ujung kepala. Aku tau ini sepenuhnya bukan
salah rian, karena dia sudah memberitahuku. Tapi kali ini aku benar2 kesal sama
rian. 6 jam aku nunggu dia, sampai kehujanan.
Pagi
ini aku merasa tidak enak badan. Bahkan saat rian membangunkanku, aku tidak
bisa melihatnya dengan jelas. Pandanganku kabur. Kepalaku pusing dan rasanya
suhu badanku panas.
“mel...
badanmu panas.. sepertinya kamu demam mel..” ucap rian
Aku hanya
diam tak tak bisa bangun. Rian mengambil handuk dan membahasahinya dengan air. Rian
mengompresku. Aku hanya bisa pasrah dan terbujur lemas.
“rian...
sekolahkuu... ” gumamku
“aku
akan ijinkan kamu hari ini ke sekolah” jawab rian
Rian
hari ini merawatku dengan penuh perhatian. Dia juga menyuapiku dan memberiku
obat penurun demam. Bahkan saat aku terbangun dari tidurku, terlihat rian tertidur
disamping ranjangku. Sepertinya dia menungguiku dan sampai ketiduran. Aku mencoba
bangun dari tempat tidurku, sontak rian juga ikut terbangun.
“kamu
udah bangun mel??” tanya rian
Aku hanya
mengangguk pelan.
“maafin
aku mel, gara2 aku kamu jadi sakit...” rian memelas
Aku hanya
diam tak berkata apapun.
“aku
capek tidur terus... aku mau nonton tv..” ucapku pelan
Rian
menggandengku dan menuntunku untuk turun kebawah. Aku bosan jika harus dikamar
seharian.
“mel..
aku temenin kamu disini ya..” ucap rian
“kamu
gak ke kantor??” tanyaku pelan
“aku
gak ke kantor mel, aku mau nemenin kamu sampe sembuh. ” jawab rian
Aku kembali
terdiam dan fokus untuk menonton acara tv. Sepertinya rian merasa bersalah
karena kejadian kemarin. Namun itu memang salahnya, lain kali aku tidak akan
percaya lagi padanya.
“riann...”
panggilku pelan
“iya
mel...” jawabnya
“kapan
sandiwara ini berakhir??” tanyaku langsung ke pointnya
“kenapa
mel?? Apa kamu sudah menemukan cinta sejatimu??” tanya rian kaget
“enggak..
bukan itu.. aku gak kuat lagi kalau terus begini... kamu juga harus melanjutkan
hidupmu. Begitupun denganku. Aku ingin hidup sendiri tanpa ada kamu dihidupku. ”
jelasku pada rian
“kamu
gak suka mel hidup bersamaku?? Apa karena aku sering mengecewakanmu akhir2
ini?? ” tanya rian
“aku
lelah dengan semua ini... kapan sandiwara ini akan berakhir?? Bukankah pernikahan
kita hanya sementara??” aku
“mel..
aku akan melepasmu jika kamu mendapatkan cinta sejatimu, jika tidak kamu akan
terus bersamaku dan menjalani pernikahan ini.” Jawab rian
“kenapa
harus menungguku mendapatkan cinta sejati?? Kenapa kamu gak nglepasin aku
sekarang??? Kamu jahat rian..” tak terasa airmataku mengalir.
“ada
waktunya aku akan memberitahumu mel.” Jawab rian sembari pergi meninggalkanku.
............
Aku masih
bingung dengan jalan pikiran rian saat ini. Mengapa dia tidak melepaskanku
saja?? Pikirku dalam hati
Hari
ini masih seperti biasa. Aku mulai mengajar lagi dan bertemu dengan pathnerku,
pak satrio. Kali ini pak satrio mengajakku untuk pulang bareng, dan sebelum
pulang kami mampir dicafe langgananku.
“akhir2
ini bu amel sering murung saat mengajar. Kenapa?” tanya pak satrio
“gak
ada apa2 kok pak... biasa ada masalah kecil sama suami..” jawabku
“ohh...
emang suami ibu orang sibuk ya??” tanya pak satrio
“begitulah...
dia harus bertanggungjawab pada perusahaannya.” Jawabku lagi
“kenapa
ibu masih mengajar kalau suami ibu orang kaya?” pak satrio
“mengajar
adalah cita2ku dari kecil pak.” Jawabku tersenyum
Setelah
mengobrol panjang lebar, kami pun memutuskan untuk pulang.
Sampai
dirumah, rian ternyata sudah ada dirumah. Sepertinya dia pulang lebih awal dari
biasanya.
“kemana
aja kamu jam segini baru pulang??” tanya rian
“sama
temen tadi ngobroll dicafe..” jawabku singkat
Tiba2
rian melemparkan beberapa kertas didepan mukaku.
“apa
ini rian??” tanyaku kaget
“kamu
liat aja sendiri. Itu yang namanya temen? Berduaan berjam2 dengan laki2 lain??”
rian marah
“ini
tidak seperti yang kamu liat difoto ini rian,... kami hanya ngobrol biasa.” Jawabku
mencoba menjelaskan
Tapi
rian pergi meninggalkan aku dan terdengar suara keras pintu yang dibantingnya.
Aku
tau rian marah, tapi siapa orang yang mengirimkan foto2 ini kepada rian? Apa maksud
dari ini semua..
Semenjak
kejadian itu.. aku dan rian tak saling bicara. Rian sering pulang malam dan
terkadang dia juga mabuk.
Malam
ini aku menunggu rian yang tak kunjung pulang. Terdengar suara mobil, aku
langsung berdiri dan bersiap menyambutnya. Namun bukan rian yang kudapati,
melainkan seorang wanita dengan dandanan super ketat dan super hot ada
didepanku. Wanita itu memberiku amplop coklat dan lamgsung pergi. Aku mengingat,
wanita itu adalah wanita yang selalu menempel pada rian saat resepsi dulu. Aku membuka
amplop itu dan melihat foto2 rian bersama wanita yang sedang bermesraan di bar
atau tempat hiburan malam. Sontak, aku terkejut dan seketika rasanya hatiku
seperti teriris-iris. Aku tau rian dan aku hanya terikat oleh buku nikah. Namun,
ini sudah keterlaluan bagiku. Tak lama kemudian, rian pulang. Dengan wajah yang
berantakan, aku berusaha setenang mungkin menghadapinya.
“kamu
kenapa??” tanya rian
Aku hanya
diam. Rian mengambil beberapa foto yang tercecer dilantai.
“aku
mau kamu urus perceraiannya segera. ” ucapku dengan airmata yang menetes lagi
dan meninggalkan rian
“mel...
mel... tunggu dulu mel...” rian berusaha mengejarku
Aku mengambil
tas dan memasukkan beberapa pakaian kedalam tasku.
“apa
yang kamu lakukan mel??” tanya rian
“aku
harus pergi dari sini. Sudah cukup aku mendampingimu.” Jawabku dengan suara
serak
Setelah
aku selesai mengambil pakaianku, aku pergi dari rumah rian. Rian terus
mengejarku dan berusaha untuk menjelaskan semuanya. Namun aku tidak
menghiraukannya. Satu tempat yang ingin kutuju adalah rumah mbak dian. Hanya mbak
dian yang dapat memberiku kebahagiaan.
............
Semenjak
aku kabur dari rumah rian, aku tinggal untuk sementara dirumah mbak dian. Aku tetap
menjalani hidupku seperti biasanya. Rian selalu menghubungiku, tapi aku selalu
menolak telponnya dan mematikan ponselku. Sudah 3 hari ini aku menghindarinya.
Malam
ini malam minggu, seperti biasa reno mengunjungi rumah tunangannya, mbak dian. Aku
yang duduk disofa dan menonton tv, menyadari kedatangan reno. Namun dia tidak
sendirian, dia bersama satu orang yang ku kenal, yaitu rian. Sontak aku
langsung berdiri dan mencoba menghindar dari rian. Namun kurasakan tanganku
ditahan oleh tangan lainnya. Ya rian menahanku. Aku langsung berbalik menatapnya.
“apa
maumu?” suaraku keras
Mbak
dian dan reno yang meyadari hal ini, mereka berdua keluar dan memberiku waktu
untuk menyelesaikan maslah ini.
“mel,
dengarkan aku sekali saja” pintanya
“5
menit” jawabku cuek
“mel,
sebenernya foto itu diambil saat aku tak sadarkan diri mel. Aku dijebak. Memang
saat aku melihat foto2mu bersama pria lain, aku marah dan tak terima. Akhirnya aku
melampiaskan kemarahanku dengan minuman keras. ”
“terus??”
tanyaku
“aku
gak terima kamu deket sama pria lain mel. Aku sayang sama kamu mel. Darahku mendidih
ketika ada yang dekat denganmu selain aku. Aku gabisa ngeliat kamu bersama
orang lain. Aku sangat mencintaimu mel..” jelas rian
“tapi...
perjanjian kita...” gumamku
“persetan
dengan perjanjian itu. Aku udah gak peduli sama perjanjian itu. Yang aku tau
sekarang ini adalah aku gak mau
kehilangan kamu..” rian
“tapii...
kamu bilang bakal ngelepasin aku kalo aku udah nemuin cinta sejatiku??”tanyaku
“itu
dulu karena ku pikir dengan ngelepasin kamu bersama orang yang kamu cintai, aku
akan bahagia. Tapi aku gak akan lepasin kamu lagi mel. Gak akan. Kamu juga
sayang kan sama aku mel??” tanya rian
“rian...
aku memang tidak pernah menyadari perasaanku. Aku cuma gak mau terus sakit atas
perlakuanmu. Jujur, aku juga marah saat melihat foto2 itu. Aku merasa tak
dihargai lagi. Makanya aku memilih untuk mengakhiri hubungan ini. ” jawabku
“mel..
kalau kamu marah melihat foto-foto itu, berarti kamu juga sayang sama aku mel..
kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. ” ucap rian
Aku hanya
terdiam dan meneteskan air mata saat mendengar ungkapan rian. Ini memang sulit
dipercaya. Orang yang dulu dingin terhadapku, orang yang selalu mengecewakanku,
sekarang dia adalah orang yang aku sayangi yang mampu membuatku menangis.
Tiba-tiba
rian memelukku. Memelukku dengan penuh rasa sayang. Bahkan, ini pertama
kalinya, aku merasa sangat dicintai.
“mel...
jangan pergi lagi ya.. aku sayang kamu..” ucap rian
Aku hanya
mengangguk dan memeluk rian kembali penuh dengan rasa cinta. Sepertinya aku gak
mau kehilangan rian.
“gitu
dong baikan..”goda reno
Mbak
dian dan reno pun ikut senang dengan apa yang kami lakukan. Akhirnya kami tidak
jadi bercerai.
“gimana
dengan bulan madu kita??” goda rian
“emm...
paris... aku pengen ke paris..” jawabku senang
“oke
deh istriku tercinta... kita akan bulan madu ke paris..” jawab rian sambil
menggendongku kekamarku.
Setelah
sekian lama memendam perasaan dan mengalami penderitaan yang begitu berat,
akhirnya kamipun dipersatukan oleh cinta. Terimakasih tuhan. Terimakasih mbak
dian. Terimakasih para pembaca setiaku...
==========TAMAT==============