Minggu, 10 April 2016

berawal dari sandiwara- novel karya siti mariyati



Novel ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku(mamak dan bapak), untuk sahabatku yang selalu mensupportku (cici) dan teman2ku. Kisah ini hanya fiktif belaka. Semoga dapat menginspirasi.





BERAWAL DARI SANDIWARA
Suara motor yang lalu lalang didepanku membuat telingaku bising. Bahkan meskipun aku terbiasa dengan kebisingan di tempat kerjaku, namun ini lebih bising dari semua kebisingan. Yaa... aku sedang menunggu bus untuk bisa ke tempat kerjaku. Namaku amelia putri, aku adalah salah satu guru di sma swasta dikota besar ini. Aku berasal dari kampung yg terkenal lewat batiknya, pekalongan. Dan tempatku berpijak sekarang ini adalah ibukota dari negara tempatku tinggal, Jakarta. Setelah lulus sarjana jurusan pendidikan bahasa inggris, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kota kelahiranku. Meskipun awalnya orangtuaku tidak setuju, aku tetap saja meyakinkan mereka agar merelakanku pergi dan menggapai impianku.
Kembali ke permasalahan tadi, aku seorang guru bahasa inggris. Untuk menuju ke tempat ku bekerja, aku sudah terbiasa dengan bus umum. Namun, keadaan hari ini sepertinya lain dari hari biasanya. Penumpang hari ini sudah menumpuk di halte, bahkan ada yang tidak sabar dan memilih menggunakan ojek online. Namun aku tetap bersikukuh menunggu bus langgananku. Jam ditanganku menunjukkan pukul 6.45. masih ada waktu 15 menit untuk sampai di kantorku. Ohh iya, aku baru dijakarta selama 6 bulan ini, dan aku juga baru mengajar di sekolah sekitar 4 bulan. Sebelumnya aku pernah bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang asuransi, namun aku hanya bertahan dibulan pertama. Aku tidak mampu jika harus kesana kemari menawarkan asuransi. Tidak sedikit yang menolak, namun aku tetap bertahan demi untuk bisa hidup dikota ini. Selama 2 bulan aku menunggu panggilan kerja yang telah aku sebar dibeberapa sekolah dari smp sampai sma. Akhirnya aku diterima di sma swasta yang sekarang menjadi tempatku bekerja.
Akhirnya bus yang kutunggu sudah ada didepanku. Akupun masuk berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Didalam bus aku hanya bisa berdiri dengan tangan kiri memegang tas sementara tangan kananku berpegangan keatas. 10 menit berlalu bus yang aku tumpangi berhenti, akupun segera keluar dari kerumunan para penumpang. Aku menghelakan napas panjang ketika keluar dari bus itu. Aku melirik jam ku yang sudah menunjukkan angka 7.05. aku segera berjalan sedikit cepat untuk bisa kesekolah. Hari ini ada upacara, dan aku sepertinya terlambat. Sampai tiba di halaman sekolah, aku berlari kecil untuk meletakkan tas di mejaku dan segera mengikuti upacara hari senin ini.
“syukurlah, pak kepsek belum datang” gumamku pelan sambil mengatur nafas
“bu amel hampir aja kena omel pak kepsek kalo sampe telat.” Sahut rekanku sekaligus sahabatku disekolah ini
Bu dian adalah guru biologi disekolah ini, umur kita tidak jauh berbeda. Beliau 25 th, dan diriku 24 tahun. Aku sudah menganggap bu dian seperti kakakku sekaligus sahabatku. Kami berdua sering dijuluki “bucan” atau bu cantik oleh anak2 murid kami. Ya karena dari sekian guru disekolah ini hanya kami berdua yang paling muda dan masih seger untuk dipandang.
Aku hanya tersenyum memandangi mbak dian yang mengkhawatirkanku. Aku lebih senang memanggilnya “mbak” ketimbang “bu” karena kami sama2 berasal dari jawa.
Setelah upacara selesai kami berdua bergegas menuju ruang kantor guru untuk mempersiapkan mengajar.
“mel, kamu naik bus lagi ya??” tanya mbak dian melirikku
“iyya mbak, seperti biasa..” jawabku senyum
“kenapa kamu gak bareng aku aja?? Kan kita bisa bareng mel..” sahut mbak dian lagi
“enggak ah mbakk... rumah kita kan gak dekat, aku juga gak mau ngrepotin mbak dian..” jawabku terseryum
“kalo gitu kamu tinggal dirumah aku aja, biar deket.. ” sahut mbak dian kembali membuatku terpaku
“enggak mbak.. akkuu ada jam mbak, permisi..” jawabku untuk menghindari pertanyaannya
Mbak dian emang baik sama aku, dia sering memintaku untuk tinggal bersamanya, karena dia tinggal sendirian dirumahnya. Mbak dian termasuk orang yang cukup kaya menurutku. Ayahnya seorang pengusaha furniture yang sudah besar dan memiliki kantor cabang dibeberapa wilayah di jawa. Namun dia memilih pergi ke kota besar dan hidup mandiri tanpa bantuan orangtuanya. Meskipun ayahnya memberikan rumah dan mobil untuk menunjang pekerjaannya.
Suara hentakan sepatu terdengar dari arahku, beberapa muridku yang masih berlarian didepan kelas, mereka mulai masuk dan duduk ke kelasnya. Aku memasuki ruang kelas 2B, seperti biasa aku menyunggingkan senyum kepada murid2ku.
“selamat pagi ”
“selamat pagi bu..” jawab mereka serempak
“sudah siap dengan ulangan hari ini?? ” tanyaku kepada mereka
Terdengar banyak jawaban yang belum siap sambil memasang muka cemas.
Aku membagikan selebaran kertas soal yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Setelah semuanya menerima kertas soal, suasana menjadi tenang tanpa ada kegaduhan lagi. Sepertinya mereka sedang serius menatap soal itu. Setelah 1 jam berlalu. Satu persatu muridku kedepan dan mengumpulkan jawaban mereka. Aku hanya diam dan sesekali tersenyum melihat jawaban lucu dari mereka.
Suasana menjadi gaduh lagi. Tersisa 10 menit lagi untuk jam mata pelajaranku. Tiba2 terdengar suara dari salah satu muridku, “bu amel, mau tanya”
“iyaa,, tanya apa??” jawabku
“bahasa inggrisnya aku cinta kamu apa bu??” tanyanya menjebakku
Aku tau maksud dari anak itu, dan aku hanya tersenyum sembari berkata
“ i love u..”
“i love u too buuu cantikk... hahaha” jawab anak itu dan suasana kelas menjadi sangat gaduh.
Aku melihat jam tanganku, sudah waktunya aku keluar dari kelas ini. Akupun merapikan kertas yang berserakan dimeja dan bergegas keluar.
Bel sekolah berbunyi, menandakan kalau kegiatan belajar mengajar disekolah ini sudah selesai. Aku masih berada di ruangan kantor dan merapikan mejaku. Kemudian, aku bergegas keluar dan kulihat sekolah ini sudah sepi. Kulihat mbak dian berdiri didepan mobilnya dan menarikku untuk masuk ke mobilnya.
“pokoknya hari ini kamu gak boleh nolak lagi” ucap mbak dian
Ternyata mbak dian mengantarkanku pulang ke kontrakanku dan dia langsung pergi. Mbak dian memang gak tega jika harus melihatku pulang naik bus umum. Dia selalu ingin mengantarkanku pulang, meskipun aku selalu menolak.
Sampai di rumah, aku mengeluarkan ponselku dan membuka chat di aplikasi bbm dan mengirimkan pesan kepada mbak dian.
“makasih mbak dian.. aku selalu merepotkan mbakk”
Malam ini aku hanya bergumul dengan kertas jawaban ulangan tadi pagi. Ada beberapa jawaban yang membuatku tertawa sendiri.
“ada-ada saja muridku ini..” gumamku sambil memegang kertas ulangan
Setelah semuanya selesai, aku merebahkan tubuhku ke kasurku dan berkata
“my job is my life”
Aku selalu bersyukur dapat mengajar di sekolah dan sesuai dengan impianku dari kecil, yappp.. english teacher.
.................
Hari demi hari berlalu seperti biasa, tidak ada yang berubah di hidupku.. aku hanya sibuk dengan mengajar dan meluangkan waktu di hari minggu untuk jogging. Tak terasa sudah setahun aku mengajar. Dan sekarang aku menjadi walikelas untuk anak kelas 3. Aku sedikit kerepotan ketika anak2ku meminta tambahan jam untuk bahasa inggris. Bukannya aku tidak mau, namun semenjak aku menjadi wali kelas 3, waktuku terkuras habis. Selain karena mempersiapkan untuk ujian akhir, aku juga sering rapat dengan kepala sekolah untuk melaporkan perkembangan kelas. Dan dimalam hari aku juga masih sibuk. Sering anak2ku sms atau telpon jika ada masalah dikelas. Itu yang membuatku stress. Maklum, disekolah itu banyak anak yang membuat genk sendiri2. Bahkan dalam satu kelas, terdiri dari beberapa genk. Terlebih untuk anak perempuan.
Hari  ini aku sudah berada disekolah lebih awal dari hari biasanya. Ini adalah hari ujian akhir yang diselenggarakan pemerintah secara serentak. Sebelum ujian dimulai, kami para guru harus brefing dengan guru tamu dari luar agar mereka dapat lunak ketika mengawasi ujian. Beberapa jamuan pun sudah disiapkan. Hari pertama sampai hari ke tiga ujian berjalan lancar. Beberapa minggu terakhir, sekolah menjadi sepi. Karena anak kelas 3 sudah jarang yang ke sekolah. Kalaupun ada, cuma untuk main dan mendapatkan uang saku saja. Akupun merasa sedikit santai dan hanya ke sekolah 3 hari dalam seminggu.
Sampai pada liburan akhir semester, aku dan mbak dian memutuskan untuk liburan ke puncak. Mbak dian dan aku memang sudah merencanakan sejak lama untuk berlibur ketempat ini. Akhirnya kesampaian juga.
Selama setahun mengajar, aku belum pernah berlibur selama tinggal dijakarta. Begitupun dengan mbak dian. Aku dan mbak dian sudah seperti saudara. Mbak dian sangat baik padaku.
Sampai di hotel tempat kita menginap, aku merebahkan tubuhku diranjang hotel. Wow, kamar ini sungguh nyaman dan mewah. Mbak dian mempersiapkan liburan dengan sangat spektakuler. Semua akomodasi selama kami berlibur, mbak dian yang mengaturnya. Karena macetnya jalan tadi, kami sampai disini sore hari. Dan malam ini kami memutuskan besok pagi untuk menikmati suasana tempat ini.
Pagi-pagi sekali mbak dian membangunkanku.
“mel.. bangun... ayo kita liat sunrise..”
“ii-iyaa mbak.. duluann.. ntar aku nyusull...” jawabku dengan suara masih mengantuk
Terdengar suara pintu dan mbak dian keluar sendirian untuk melihat matahari terbit. Namun aku masih diatas ranjang dan menikmati hangatnya selimut ditubuhku. Aku tertidur kembali. Setelah beberapa menit, aku tersadar dan melihat jam diatas meja menunjukkan angka 8.00. dengan perasaan kaget aku bangun dan mencuci muka kemudian segera keluar kamar. aku berjalan ke restoran hotel dan melihat mbak dian sudah berada disalah satu meja. Hotel ini memang memiliki letak yang strategis karena dari sisi restoran ini, kami dapat melihat indahnya panorama tempat ini.
“baru bangun kamu mel??” tanya mbak dian ketika melihatku berjalan kearahnya
“iyyaa mbakk, abisnya enak banget molor dikasur... hehehe” jawabku sambil menggaruk kepala
“ketinggalan sunrise kamu mel, udah lewat..” ucap mbak dian
“yahh... gak bisa liat sunrise deh.. ” jawabku kecewa
Aku duduk didepan mbak dian dan ternyata mbak dian sudah memesan sarapan untuk kami berdua.
Setelah kami menghabiskan sarapan kami, aku dan mbak dian kembali ke kamar hotel untuk mandi.
Setelah semuanya siap, kami berjalan keluar hotel untuk meng-explor tempat ini.
“udaranya seger banget ya..” tanyaku pada mbak dian
“iyyaa mel... beda sama jakarta.. penuh polusi..”
Tiba2 ada 2 orang pria menghampiri kami..
“haiii...” sapa salah seorang pria itu
“haloo...” jawab mbak dian
Sementara aku dan pria satunya hanya terdiam.
“kenalin, gue reno... ini temen gue rian...” sambil mengulurkan tangannya pada kami
“gue dian, ini amel...” mbak dian memperkenalkanku
Sementara mbak dian asyik mengobrol dengan reno. Aku dan rian hanya diam dan melihat keadaan sekitar. Kelihatannya mbak dian cocok sama reno, mereka sama2 klop dan asik ngobrol meskipun obrolannya gak penting. Aku melihat mereka saling bertukar nomor hp dan seketika itu aku melihat kedua insan itu tersenyum lebar. Mungkin mereka fallin in love pada pandangan pertama.
Reno adalah pribadi yang ramah dan gampang bergaul. Secara fisik, reno sangatlah keren dengan perawakan tinggi, tegap dan potongan rambut mirip seperti choco jericko. Sementara rian, aku tidak bisa menebak seperti apa kepribadiannya, namun secara fisik rian tak kalah keren dengan reno. Mereka berdua seperti atlit basket yang tinggi besar.
Sampai akhirnya kami berempat berlibur bersama seharian ini. Bisa dibayangkan mbak dian sama reno sudah seperti orang kasmaran. Sementara aku dan rian hanya diam dan menjadi saksi bisu reno dan mbak dian. Setelah capek seharian ini, kami memilih pulang ke hotel masing2.
“ehemm... ciiee yang lagi kasmaran...” ucapku menggoda mbak dian
“ahh kamuu ini mel... bisa aja” jawab mbak dian yang masih sibuk dengan ponselnya.
Aku melihat, mbak dian begitu bahagia saat bertemu dengan reno. Mungkin sudah saatnya mbak dian menemukan cinta sejatinya. Pikirku dalam hati. Kami pun beristirahat malam ini.
Pagi ini kami kembali berlibur ke tempat lain yang ada disini. Mbak dian sudah memberitahuku kalau kita akan pergi berempat. Siapa lagi kalo bukan reno dan rian. Yahh... sepertinya mbak dian sudah terkena sindromnya reno. Apapun mereka selalu berduaan dan menempel.
Saat ini kita berada disalah satu tempat makan diluar hoteldan kami duduk berempat. Tiba2 mbak dian dan reno berdiri bersama2.
“mel, hari ini kita mau jalan2 berdua ya... kamu sama rian gapapa kan??” tanya mbak dian
“bro... gue mau berduaan dulu, elu jagain amel ya... ” pinta reno pada rian
Kami berdua sama2 melotot kearah mereka berdua, apa yang ada dipikirannya coba??  Aku ditinggal dengan orang sedingin rian??? Tidakk... tidak... ini tidak mungkin,.. namun mbak dian dan reno masuk ke mobil mbak dian dan meninggalkan kami berdua.
Aku merasa canggung harus memulai percakapan dengan rian. Akhirnya kami hanya terdiam sampai selesai makan.
“lo mau kemana??” tanya rian ketika aku sudah berada dimobilnya
“aa-akkuu.. terserahhh..” jawabku pasrah
“okee kalo gitu... ” jawab rian lagi
Tiba di salah satu tempat wisata, aku dan rian turun dari mobil.
“curug kembar puncak ” gumamku sambil melihat plang diatas sebelum kami masuk.
Kami harus jalan kaki untuk bisa sampai di tempat tujuan. Jalannya berbatuan dan sedikit licin. Rian berjalan didepanku dan sesekali aku tertinggal jauh karena aku takut kalau tergelincir. Sampai tiba di air terjun itu, aku melihat betapa indahnya air terjun dan panorama sekitar. Terlihat banyak orang yang mengabadikan moment ini dan tak sedikit yang menyelam dan mandi di bawah air terjun itu. Aku mengeluarkan ponselku untuk memotret indahnya pemandangan tersebut. Tidak lupa akupun selfi dan rian hanya melihatku seperti meledek.
“kekanak-kanakan” gumam rian sambil melihat kearahku
Aku langsung melotot dan melihat ekspresi rian yang menyindirku. Seketika aku tau sifat rian, dasar orang yang dingin. Gumamku dalam hati.
Rian berjalan sendiri entah kemana, sementara aku hanya berdiri dan melihat orang2 yang sedang mandi dan menceburkan dirinya ke air itu. Aku merasa senang karena dapat melihat pemandangan yang indah ini, meskipun bersama orang yang seperti es itu. Sungguh dingin sekali orang itu, seperti es dikutub utara.
Sudah setengah jam rian meninggalkanku sendirian disini, aku tidak melihat tanda2nya lagi. Aku merasa gelisah dan tak tau harus kemana mencari orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya lagi selama setengah jam, jika masih tidak ada tanda2 kedatangannya, aku akan kembali ke mobil.
Setengah jam pun berlalu, aku memutuskan untuk kembali ke mobil untuk menunggunya.
“isshh... kemana orang itu... menyebalkan..” gumamku ketika berjalan keatas
Sampai di parkiran mobil kami, ternyata dia ada didepan mobil sambil mengobrol dengan warga sekitar. Sepertinya dia orang situ, cara berbicara mereka sudah akrab sekali.
“udah selesaii foto2nya??” tanya rian padaku
Aku hanya mengangguk dan dengan raut muka sedikit kesal aku masuk ke dalam mobil.
Dimobil aku mencoba mencairkan suasana dan mulai mengobrol dengannya.
“kamu orang sini ya?? Kok ngerti bahasa sunda” tanyaku
“dulu..” jawabnya singkat
“dulu?? Terus sekarang??” tanyaku penasaran
“sekarang di jakarta.” Jawabnya masih dingin
“ohhh...” aku hanya bisa mengeluarkan kata2 itu
Sejenak suasana menjadi hening kembali dan waktu sudah sore.  Aku membuka ponsel dari mbak dian, kalo dia menungguku ditempat makan tadi. Rian juga membuka ponselnya, sepertinya reno juga sms rian.
“kita ditunggu di tempat makan tadi” ucapku pada rian
“hmm...” jawabnya cuek
Aku tidak mengerti, mengapa dia begitu cuek dan dingin. Apa dia seperti itu pada semua orang? Terus siapa yang betah pacaran sama orang sedingin itu?? Tanyaku dalam hati.
Akhirnya kami sampai ditempat kami bertemu pagi tadi. Aku menghampiri mbak dian yang sudah menungguku disana.
“gimana liburannya??” tanya mbak dian
“seneng mbak... kami tadi ke curug kembar.” Jawabku sambil tersenyum
“syukurlah.. kamu gak diapa2in kan sama rian.??” Tanya mbak dian menggodaku
Aku mengernyitkan kening dan melotot pada mbak dian. Diapa2in?? Orang sedingin es gitu?? Ngomong aja males. Jawabku dalam hati
“enggak lah mbak” jawabku
“eh bro... gimana jalan2nya sama neng cantik??” tanya reno pada rian
“biasa aja” jawab rian cuek
Aku yang mendengar jawaban rian spontan langsung melihat kearahnya. Biasa aja?? Emang sih biasa aja, tapi setidaknya dia bilang seneng kek atau apa gitu.
“ahh elu ya bro, dari dulu kalo jalan sama neng cantik jawabnya pasti gitu” ucap reno
“udahlah ren, biarin aja si rian... jangan digodain terus..” mbak dian menengahi pembicaraan mereka
“mel, aku ada berita gembira..” ucap mbak dian padaku
“apaan mbak?” tanyaku penasaran
“kami berdua udah resmi pacaran.” Jawab mbak dian sambil memegang tangan reno
Aku sedikit terkejut dengan pernyataan mbak dian. Lalu aku hanya tersenyum pada mbak dian.
“ren.. kita besok udah balik ke jakarta.. ” ucap mbak dian dengan wajah sedih pada reno
“gue juga mau balik besok.. apa kita bareng aja gimana?” tanya reno
“boleh..” jawab mbak dian gembira
“bro... gue besok balik satu mobil sama dian ya,, lo satu mobil sama amel. Gapapa kan??” tanya reno pada rian
Aku spontan kaget dan membelalakkan mataku pada reno. Apa???? Satu mobil sama si kutub utara??? Gumamku dalam hati.
“gila lo... enggak ah” jawab rian spontan
“pliss lah bro... demi gue... pliisss... ” pinta reno memelas
Aku melihat rian menghela nafas panjang dan gak tega melihat sahabatnya meminta seperti itu.
“ahh... elu ya... oke deh. Gak tega gue liat muka melas lo.” Jawab rian akhirnya setuju
Mbak dian dan reno pun senang, sementara aku dan rian terlihat gelisah. Apa aku harus berkorban demi mbak dian?? Tapi mbak dian udah baik banget sama aku. Gak mungkin aku bikin rencana mereka batal kan?? Banyak yang aku pikiran daat ini. Aku hanya bisa menerima semua itu.
.................
Akhirnya kami harus kembali ke jakarta pagi ini. Dua mobil sudah ada didepan hotel kami. Reno dan mbak dian naik mobilnya mbak dian, sementara aku akan naik mobil mr.kutub, si rian.
Kami pun sudah berada di mobil masing2 dan segera meluncur. Kebayang kan suasana mobil saat ini?? Kalo mobil mbak dian sih pasti mereka sedang mesra2an sekarang. Lah kalo aku?? Berbanding terbalik. Aku dan mr.kutub tidak saling bicara. Kami berdua hanya mendengarkan musik yang diputar  rian. Ternyata dia suka lagu luar, seperti one direction, cristina perry, dll.
Udara saat itu masih sejuk, dan tiba2 terpikir dibenakku untuk tidur. Yaa... mau apa lagi kalo nggak tidur?? Rian juga gak ngajak ngobrol aku. Pikirku dalam hati
Sampai tiba dirumah mbak dian, reno dan rian istirahat sejenak untuk melepaskan penat saat perjalanan tadi. Mbak dian menyuruhku untuk menginap malam ini dirumahnya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua (reno & rian) pulang. Akupun segera menuju salah satu kamar yang kosong dirumah ini. Mbak dian tinggal sendirian disini, hanya dengan satu pembantu yang dibawanya dari kampung.
Akhirnya aku beristirahat malam ini dirumah mbak dian. Saat pagi tiba, aku terbangun dan tersadar oleh suara dari dapur. Aku melihat mbak dian dan simbok sedang menyiapkan sarapan.
“pagii mell..” sapa mbak dian ketika melihatku
“pagii mbakk...” jawabku masih mengantuk
“duduk situ dulu, aku siapin sarapan.” Ucap mbak dian
Tak berselang lama, mbak dian membawakan 2 porsi nasi goreng. Masih hangat dan wanginya begitu menggoda.
Kamipun sarapan dengan lahabnya. Setelah selesai, aku berusaha bicara pada mbak dian, agar aku bisa cepat pulang.
“emm...mbak.. kayaknya aku harus pulang deh..”
“buru2 amat mel.. sini aja dulu..” jawab mbak dian
“tapi mbak, 2 hari lagi kita harus masuk kerja lagi kan..” ungkapku
“iya kan masih ada 2 hari,.. hehehe” jawab mbak dian
“tapi ada banyak yang harus aku kerjakan mbak.. aku juga belum persiapkan semuanya..” aku berusaha meyakinkannya
“hmm... oke deh kalo itu maumu.. nanti sore aku anterin pokoknya.”
Aku mengangguk senang. Akhirnya aku bisa meyakinkan mbak dian.
Akupun pulang kontrakanku ini, meskipun kecil tapi disinilah tempatku. Aku merasa sudah lama meninggalkan rumah ini.
............
Hari senin tiba, tahun ajaran baru. Seperti biasa aku naik bus untuk ke sekolah. Terlihat banyak murid baru yang berjajar untuk mendapatkan bimbingan MOS. Ya masa orientasi siswa. Namun kali ini aku tidak ikut upacara pelepasan MOS tersebut. Aku langsung ke mejaku dan menyapa beberapa guru lainnya. Jam 8.00, pak kepsek mengumpulkan semua guru untuk rapat. Seperti biasa, aku dan guru lainnya mendapatkan jatah menjadi wali kelas. Kali ini aku mendapat menjadi wali kelas 1. Aku menghelas nafas dan merasa lega. Pasti tahun ini tidak akan sesibuk tahun kemarin.
“apes mell..” mbak dian mendekatiku
“dapet kelas 3 ya mbak??” tanyaku menggodanya
Mbak dian mengangguk pelan dan kelihatannya pasrah. Bel masuk pun berbunyi. Kami pun bergegas masuk ke ruang kelas masing2.
Seperti hari pertama mengajar kembali, aku memperkenalkan diri sebagai wali kelas.
“selamat pagiii..” ucapku mengawalinya
“selamat pagi buu...” jawab anak2 itu serempak
“oke... kali ini saya akan memperkenalkan diri pada kalian. Karena saya adalah wali kelas kalian...”
Terlihat banyak anak yang antusias dan senang ketika mengetahui bahwa wali kelasnya adalah saya.
“nama saya amelia putri, bisa dipanggil bu amel. Saya guru bahasa inggris. Dan umur saya 25 tahun.”
“status buu???” teriak salah satu murid dari belakang
“status??? Saya belum menikah dan single.” Jawabku tersenyum
“Apa ada lagi yang ditanyakan??” tanyaku
“nomor hp bu??” terdengar suara itu
Aku menuliskan nomor hp dipapan tulis dan sebagian dari mereka mencatatnya.
Kemudian aku memanggil satu persatu muridku untuk memperkenalkan dirinya masing2. Setelah itu kami membentuk struktur organisasi kelas dan sebagainya. Sampai akhirnya aku selesai dan pulang seperti biasa.
Beberapa bulan kemudian, aku masih menjalani hari2ku dengan happy2 saja. Aku senang dengan kesibukanku saat ini. Dan apa kabar mbak dian dan reno? Aku jarang bertemu mbak dian disekolah karena saat ini dia menjadi wali kelas 3, mungkin mbak dian sibuk. Terlintas dipikiranku untuk menelfonnya.
“malem mbak... ” suaraku dari sini
“iya mel... malem juga,.. kangen ya sama aku??” mbak dian menjawab
“iya nih mbak... oh ya, mbak dian sama reno gimana kabarnya?” tanyaku penasaran
“kamu kepo ya... iya alhamdulillah kami masih baik2 aja kok mel. Bahkan dalam waktu dekat, kami akan berkomitmen dalam satu ikatan. hehehe” jawab mbak dian
“ohh ya... mbak dian gimana sih gak ngasih tau aku??” aku sedikit merajuk
“ini kan udah dikasih tau mel... oh ya,.. reno itu bekerja di perusahaan papanya rian mel. Kamu masih ingat rian gak??” tanyanya
“rian?? Ohhh iya mbakk... ” jawabku sedikit berpikir
“ternyata rian anak orang kaya mel, coba deh kamu deketin rian. ” ucap mbak dian diseberang sana.
“yeee mbak dian mah gitu...emang aku gila orang kaya apa??” jawabku
“ya kan siapa tahu dia suka sama kamu mel.. atau aku comblangin ya??” mbak dian terus menggodaku
“ehhh... gak mauu mbakk... emang apaan dicomblangin?? Gak gak.. pokoknya gak mau..” ucapku menolak
“harus mau. Pokoknya ntar biar aku sama reno yang ngatur. Kalian berdua sama2 jomblo, mau tunggu apa lagi coba??”
“tapiii mbakkk.....”
Tuuutt tuutt tuutt . terdengar suara itu dan telepon pun terputus.
“isshhhh... apa2an mbak dian?? Pake comblangin segala” gumamku kesal
............
Malam ini malam minggu, seperti biasa aku hanya duduk dan bersantai kamarku. Tiba2 terdengar suara dari arah ponselku. Kulihat tertera nama “mbak dian”
“iyyaa mbak... ada apa??” tanyaku
“kamu kesini bentar ya. Cafe tempat biasa kita ketemu. Aku tunggu sekarang. ” ucap mbak dian diseberang sana
“aaa-akkuu....” belum sempat menjawab, namun teleponnya sudah terputus.
“ isshh... emang ada apa sih...” gumamku kesal
Sampai ditempat yang sudah ditentukan, aku menunggu disalah satu meja yang masih kosong. Aku pun mengirimkan beberapa sms pada mbak dian, kalo aku sudah sampai.
“tunggu 15 menit lagi aku sampai. ” sms mbak dian
Aku menghelakan nafas sambil meminum jus yang sudah aku pesan. 10 menit berlalu, namun tidak ada tanda2 mbak dian disini. Terdengar suara sepatu menuju kearahku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat sosok pria yang memakai jas rapi sudah berdiri didepanku.
“riii-riiann...” gumamku kaget menyadari keberadaannya
“ada apa lo nyuruh gue kesini??” tanya rian sembari duduk dikursi
“guu-guee??” tanyaku berbalik heran
“iiyaa... lo kan yg nyuruh gue kesini.. kata reno ada hal penting yang mau lo omongin” jawabnya cuek
“kok guee?? Denger ya... gue kesini itu karna disuruh mbak dian.. tapi gue juga gak minta lo kesini. ” jawabku kesal
Gaya bicaraku sekarang udah seperti anak jakarta, kalo ngomong sama orang jakarta emang sering pake lo-gue.
Aku melihat rian mengeluarkan ponselnya, mungkin dia akan minta penjelasan pada reno.
“lo apa2an sih?? Rencana lo apa bikin gue kesini. ” suara rian terdengar marah
“sialan lo,,” kemudian rian menutup ponselnya.
“ada apa ??” tanyaku penasaran
“sialan.. kita dikerjain sama reno dan dian..” jawabnya kesal
“terus gimana??” tanyaku kembali
“ya terus kita makan.. gue laper...” jawabnya sinis
Aku dan rian seperti orang asing yang baru bertemu, bahkan sampai kami berdua selesai makan. Kami tidak mengobrol, hanya terdiam dan tidak berani menatap.
“rumah lo dimana??” tanya rian mengagetkanku
“apaa??”
“lo tinggal dimana?? Biar gue anterin. Udah malem, bahaya kalo lo pulang sendirian. ” jawab rian
“guu-guee  tinggal deket sini kokk... ” jawabku pelan.
Tiba2 rian menggandeng tanganku dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Aku merasa seperti ada aliran listrik 1000 volt menyetrum tubuhku saat ini. Aku menjadi tegang dan jantungku berdegup sangat kencang.
Dimobil, kami berdua hanya terdiam... aku hanya berbicara sedikit menunjukkan arah rumahku. Terdengar bunyi dari saku jas rian, sepertinya ponselnya berdering.
“iii-iyyaa... aku akan kesana mah..” jawab rian dengan muka yang berubah menjadi cemas
“ada apa??” tanyaku penasaran
“bokap gue kumat lagi.. ” jawabnya cemas
“yaudah buruan lo ke rumahsakit, bokap lo butuh lo saat ini ” ucapku mencoba perhatian
“terus lo gimana??” tanya rian
“turunin aja dihalte depan, gue bisa pulang sendiri kok..” jawabku
“gak gak.. gue anterin lo dulu.. baru ke rs” jawab rian menolak
“kelamaan rian.. lo harus bolak balik kalo nganterin gue... ” ucapku lagi
Rian terlihat berpikir sejenak, dan mencoba mencari jalan keluar
“lo gapapa kalo ikut gue ke rs dulu?” tanya rian
Aku hanya mengangguk, bukan apa2 yang ada dipikiranku, namun aku juga ikut memikirkan ayahnya rian saat ini. Akhirnya kami berdua menuju rumah sakit tempat ayah rian dirawat.
Sampai tiba di rumah sakit, aku melihat wanita paruh baya menangis saat menunggu di depan ruang ICU. Aku melihat rian memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
“gimana mah, keadaan papah??” tanya rian kepada wanita itu
“papamu masih belum sadar sayang... papamu terkena serangan jantung saat menerima telepon dari salah satu stafnya..” jawab mama rian
Aku hanya terdiam melihat adegan yang mengharukan ini. Ternyata rian orangnya sayang banget sama orangtuanya. Meskipun dia selalu dingin terhadap orang lain. Tiba2 mama rian menatapku, dan aku hanya tersenyum dan menatap wanita itu dengan penuh rasa peduli.
“siapa dia sayang??” tanya mama rian menatap kearahku
“temen rian mah..”  jawab rian singkat.
Kami bertiga kemudian hanya duduk dan melontarkan doa, semoga ayah rian segera sadarkan diri. Hampir 1 jam kami disini, aku melirik jamku menunjukkan angka 11.20, namun belum ada pemberitahuan dari pihak dokter. Tiba2 rian berdiri didepanku dan berkata
“mel.. sebaiknya kamu pulang aja. Aku akan pesan taksi untuk mengantarmu pulang.”   
Aku hanya menatap rian dan mengangguk pelan.
“keluarga pak atmaja??” suara dokter mengagetkan kami bertiga
“Iyyaa dok... kami keluarganya” jawab rian mendekat ke dokter tersebut
“pak atmaja sudah sadarkan diri.. silahkan kalian boleh masuk..” jawab dokter
Tiba2 rian menarik tanganku untuk ikut masuk ke dalam. Entah apa yang dipikiran rian, tapi aku hanya diam dan mengikutinya.
“papah... ” rian mulai mendekat dan hampir menangis
Sementara mama rian sudah menangis sejak kami belum datang tadi..
Aku hanya melihat dan diam melihat adegan ini. Kupikir, ini bukan urusanku.
“rii-riaann...” ucap papa rian
“iya pah.. ini rian...” jawab rian menangis. Kali ini rian tidak dapat menahan airmatanya lagi
“papahh sudah ti-tiidak kuatt lagi nakk... perusahaan butuh kamuu..” ucap papa rian
“papahh ingin melihat kamu memimpin perusahaan itu nakk.. kamu sudah waktunya menggantikan papahh...” ucap papa rian kembali
“tapii pah... rian belum siapp... ” jawab rian
“kamu sudah waktunya menggantikan papahh nakk... dan kamu juga harus mencari pendamping hidup.. karena kamu butuh keluarga dibelakangmu..” ucap papa rian
“tapii pahh... aku belum memikirkan hal itu...” jawab rian merengek
“wanita ituu... suruh dia mendekatt pada papahh..” tangan papa rian menunjuk kearahku
Akupun mendekat ke papanya rian. Dengan perasaan takut dan tegang, aku berusaha untuk tenang
“siapa namamu nak??” tanya papa rian sambil memegang tanganku
“amell omm..” jawabku pelan
“rian... menikahlah dengan dia... sepertinya dia orang yang pas untukkmu... ” ucap papa rian sambil menyatukan tangan kami berdua
Sontak aku dan rian kaget dan melotot saling menatap.
“tapii pah.... diaa.....” jawab rian mencoba menjelaskan kepada papanya
Tiba2 terdengar suara “”tuuuuuttttttttt” dari alat pembaca detak jantung..
Astaga, suasana apa ini?? Menikah?? Dengan rian???
“dokter dokter...” teriak rian sekencang-kencangnya..
Dokterpun datang dengan dua orang perawat masuk keruangan ini. Kami bertiga keluar ruangan dengan penuh rasa khawatir dan cemas.
Terdengar mama rian menangis dengan sangat kencang. Aku mendekat dan mencoba menenangkan mamahnya rian.
“tenang tante... semua akan baik2 saja..” ucapku pelan sambil memeluk wanita paruh baya itu
Dokter keluar dan menghampiri kami.
“gimana dok??” tanya rian
“maaf.. kami tidak dapat menolong pak atmaja” jawab dokter
Sontak mama rian langsung menangis lebih kencang dari sebelumnya. Tak terasa akupun ikut menangis, meskipun tidak mengeluarkan suara seperti mama rian.
Aku melihat rian kacau dan sangat sedih saat ini. Rian yang aku kenal dingin dan cuek, saat ini dia sama seperti orang biasa. Rapuh dan lemah.
Aku menghampiri rian dengan penuh simpatik dan berdiri didepannya.
“rian... kamu yang sabar ya..” ucapku pelan
Namun aku tidak mendapatkan jawaban apapun dan tiba2 kedua tangan rian memelukku dengan erat. Rian memelukku dan menangis dipelukanku. Akupun hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya dan berkata
“kamu harus kuat rian...”
Setelah beberapa menit, rian melepaskan pelukannya padaku. Dia terlihat malu dan tidak berani menatap mataku.
Aku mengeluarkan ponselku dan menelpon sahabatku.
“mbak... papanya rian meninggal... aku dirumah sakit sekarang..”
“oke mbakk... aku tunggu” kalimat terakhir dari mulutku sebelum menutup ponselku.
Aku memberitahu mbak dian, dan spontan mbak dian bilang dia akan datang.
Rian terlihat sibuk mengurusi kematian ayahnya sementara aku dan mamanya rian hanya duduk sambil menangisi kepergiannya.
Setengah jam kemudian.. mbak dian dan reno datang bersamaan. Aku melihat mbak dian duduk disamping sisi sebelah lainnya dari mamanya rian. Kami berdua berusaha menenangkan wanita itu.
“rian dimana mel?” tanya reno padaku
“dia lagi ngurus keperluan administrasi” jawabku
Tak berselang lama, rian muncul. Reno pun langsung memeluk sahabatnya itu. Terlihat jelas kesedihan diwajah rian. Setelah semua keperluan selesai, aku dan mbak dian memutuskan untuk pulang. Mamanya rian juga pulang dengan mobil dan supirnya. Sementara rian dan reno dirumahsakit sampai besok pagi.
Pagi ini aku dan mbak dian sudah berada di rumah rian. Setelah pemakaman selesai, rumah rian mulai sepi dari para pelayat. Yang ada hanya aku, mbak dian, reno, rian dan mamahnya. Semua pelayat sudah pulang. Dan kamipun bersiap pamit juga untuk pulang.
“kami pulang dulu ya tante” ucapku pelan
“iya nakk... terimakasih atas semuanya..” jawab mamanya rian
Aku hanya mengangguk dan tersenyum dan langsung pulang.
Beberapa hari kemudian...
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, aku tetap menjalani kesibukanku dengan mengajar. Masih teringat jelas kesedihan rian kala dirumahsakit. Betapa rapuhnya rian sebenarnya. Sambil terus menikmati kopiku, aku melihat ponselku berdering. Nomor baru. Pikirku dalam hati
“iya halo.. siapa ini?” tanyaku sopan
“ini gue rian...” jawabku kembali seperti biasa
“ada apa??” tanyaku lagi
“lo dimana sekarang??”
“gue lagi di cafe tempat dulu kita ketemu” jawabku seadanya
“lo bisa kerumah gue sekarang gak? Mamah mau ngomong sama lo”
“mamahmu mau ngomong??” tanyaku tak percaya
“iya. Buruan kesini. Gue tunggu. ” jawab rian dan langsung mematikan ponselnya
Aku masih bingung, untuk apa mamanya rian nyuruh aku kesana?? Apa ada masalah yang serius?? Pikirku dalam hati
Aku langsung bergegas dan naik taksi yang lewat didepanku. Sampai tiba di rumah rian yang sangat megah, aku masih menyimpan beberapa pertanyaan diotakku.
“tante...” sapaku pelan
“amel... sini duduk sayang...” jawab mamahnya rian
“ada apa tante??” tanyaku penasaran
“oke.. karena kalian berdua sudah ada, tante akan langsung bicara ke pointnya saja. Begini, sesuai dengan permintaan papanya rian sebelum pergi, kalian diminta untuk menikah. Dan sekarang tante ingin memilih tanggal pernikahan kalian.” Jelas mamanya rian
“menikah???” teriakku dan rian bersama2
“iyaa menikah... kalian gak lupa kan??” ucap wanita itu
“tapii mahh... aku sama amel gaada hubungan apa2 mahh..” jelas rian
Aku hanya terdiam dan masih tak percaya tentang apa yang diungkapkan mamahnya rian.
“tapii... itu permintaan terakhir papamu kan sayang??” ucap mamahnya
Rian terlihat berpikir keras dan mencari cara agar pernikahan ini tidak terjadi.
“mah... tapii amel belum tentu mau kan nikah sama rian??” tanya rian kepada mamanya
“nak amel... kamu mau kan nikah sama rian??” ucap mamahnya rian sambil memegang tanganku
Aku hanya diam dan tak tau harus berbuat apa. Tiba2 rian menarikku dan sontak aku berdiri dan mengikutinya
Rian menarikku menuju tempat disudut ruang tengah yang tidak terlihat oleh mamanya.
“mel, maafkan aku. Gara2 aku kamu harus terjebak dalam situasi seperti ini. ” ungkap rian.
“rian,.. aku harus gimana??” tanyaku cemas
“mel, ini keputusan yang berat untuk kita. Tapi, aku gak mau membuat mamah kecewa. Kamu mau gak menikah denganku? Kita menikah kontrak.”
“apa kamu sudah gila?? Aku gak bakal mau nerima ide gilamu itu.” Jawabku marah
“mel, denger dulu,.. kita nikah cuma buat mamahku seneng dan papaku juga tenang disana. Setelah kamu mendapatkan pria idamanmu, aku akan menceraikanmu. Tenang aja, kamu bakal dapat harta yang pantas sebagai istriku.” Jelas rian panjang
“aku bukan wanita seperti itu rian,.. aku bukan gila harta dan mengorbankan pernikahan untuk mendapatkannya” jawabku tegas
“mel, aku mohon mel... kalo begitu lakukan demi papaku mel...” pinta rian
“rian... jangan seperti ini rian... ini situasi yang sulit bagiku..” jawabku
“kalo gitu percaya sama aku mel, aku akan menghormatimu dan tak akan berbuat aneh2 padamu..” jawab rian
Aku menghela nafas panjang dan mengangguk pasrah.
“makasih ya mel... aku janji ini akan mudah bagi kita. Ini hanya pernikahan secara tertulis saja.”
Akhirnya kami berdua kembali ke ruang tengah tempat mamahnya rian menunggu kita.
“mah... aku udah memutuskan hal ini. Kami berdua menerima pernikahan ini.” Ucap rian
Terlihat jelas wajah bahagia pada wanita paruh baya itu.
“oke... sekarang kita tentukan tanggalnya” ucap mamahnya rian

................
Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Aku akan menikah bulan depan?? Oh tuhan... pernikahan adalah hal yang sangat penting dan sakral bagiku. Bisakah aku menikah dengan seseorang tanpa dilandasi rasa cinta??
Aku terus memikirkan hal itu. Saat ini aku hanya bisa pasrah kepada tuhan. Sambil melirik jam ditanganku, aku tau ini sudah waktunya aku pulang dari sekolah. Sedari tadi aku hanya bisa melamun dimeja kantor guru. Aku bergegas keluar dan berjalan pelan menuju halte bus. Namun aku menghentikan langkahku ketika melihat sosok pria yang aku kenal.
“rii-riann??” gumamku pelan
“lama sekali kau keluar.. aku sudah setengah jam menunggumu disini. ” ungkap rian
“apa yang kau lakukan disini??”
“mamaku menyuruhku untuk mengantar jemputmu setiap hari. ” jawab rian singkat
Aku masih belum percaya dengan apa yang dikatakan rian. Mengantar jemput setiap hari??? Apa-apaan in?? Pikirku
Akhirnya tanpa banyak omong, aku masuk ke mobil rian.
“mel, mulai sekarang kamu harus terbiasa denganku. ” ucap rian memecah keheningan
“apa maksudmu??” tanyaku
“kita harus membuat ini semua seperti tanpa ada tekanan dan rasa canggung. Aku tidak mau mama sampai curiga pada kita.” Jelas rian
Aku hanya mengangguk dan diam. Aku mengerti apa yang dimaksudkan rian.
............
Hari-hari terus berjalan seperti biasa. Pernikahanku akan tiba seminggu lagi. Dan hari ini rian mengajakku untuk fitting baju dan memilih cincin pernikahan.
Pagi ini aku tidak mengajar, aku sedang menunggu rian menjemputku. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya mobilnya sudah didepan rumahku. Aku langsung masuk ke mobil rian.
“maaf aku tadi ada tamu penting.” Ucap rian
“iya gapapa...” jawabku pelan
“kamu harus siap mel, seminggu lagi kita akan menikah.”
Aku hanya menghela nafas dan menganggukkan kepala.
Setelah seharian kami fitting baju dan memilih cincin, akhirnya aku dan rian pulang. Tak ada kesan apapun.
........
The wedding
Hari ini adalah hari pernikahanku. Aku sudah berada di depan penghulu yang tidak lain adalah ayahku sendiri. Ya, ayahku sendiri yang menikahkan aku. Aku meneteskan air mata ketika melihat kedua orang tuaku. Aku tau ini bukan air mata kebahagiaan, namun air mata kesedihan. Aku sudah membohongi orang tuaku. Ini bukanlah pernikahan sebenarnya. Namun kulihat disampingku, rian yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku malah tersenyum seperti ini adalah hari bahagia untukknya. Entah apa yang ada dipikiran rian, atau dia hanya ingin sandiwaranya berhasil dan terlihat begitu natural.
Malam ini resepsi pernikahan kami diadakan, terlihat banyak tamu yang datang dan memberi ucapan selamat kepada kami. Namun, saat ini mataku terfokus pada wanita yang sekarang berdiri didepan suamiku, wanita itu terlihat mesra dan ingin selalu menempel pada rian. Aku tak bisa berbuat apapun, karena aku tidak berhak marah dan mencampuri urusan rian. Aku sadar, kalau aku hanyalah istri diatas kertas saja. Selebihnya kami hanyalah orang asing. Setelah resepsi pernikahan selesai, kami beristirahat dikamar pengantin. Kamar ini sudah dihias sedemikian rupa dengan warna dominan coklat. Begitu maskulin. Dimana-mana terlihat banyak bunga menghiasi kamar ini. Aku tau, ini pasti ide mertuaku itu. Setelah selesai mandi, aku dan rian bersiap untuk tidur. Namun ada masalah. Masalah apa??
“rian... terus kita gimana tidurnya??” tanyaku cemas
“ya tinggal tidur aja.. emang mau ditidurin?? hahaha” jawabnya menggodaku
“ah riannn... aku serius nih... kamu mau tidur dimana??” tanyaku
“aku tidur diranjang lah.. mau dimana lagi.” Jawab rian cuek
“ya udah, aku disofa aja.” Jawabku sambil membawa bantal menuju sofa kamar ini.
“tunggu-tunggu... kamu mau tidur disofa??” tanya rian
“iyalah... aku disini aja gapapa..” jawabku
“eitss... kamu pikir aku bakal begitu tega dengan seorang wanita?? Gaada yang bakal tidur disofa. Semuanya tidur diranjang. ” tegas rian
“tapii.....” gumamku
“udah kamu tenang aja... aku janji aku gabakal nyentuh kamu sedikitpun. Kita udah janji kan.” Ungkap rian
Aku hanya mengangguk pelan dan tidur diranjang. Ranjang ini berukuran king size, kami berada di sisi ujung ranjang masing-masing. Dan kami berdua seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Aku merasa gelisah dan tak bisa tidur. Tak lama kemudian, aku mendengar suara dengkuran dari arah rian. Pasti dia sudah tidur. Dan aku baru lega dan bisa tidur setelah memastikan rian sudah terlelap.
Pagi ini rian bangun lebih awal dari pada aku. Aku mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi. Akupun bangun dan duduk ditepi ranjang. Terdengar suara pintu dibuka dari arah kamar mandi. Rian keluar dengan sehelai handuk melilit tubuhnya. Wow, kulihat rian begitu keren. Badannya begitu tegap dan terlihat perutnya yang six pack. Aku merasa gemetar saat melihat rian telanjang dada. Perasaan apa ini tuhan?? Gumamku dalam hati. Ternyata rian menyadari kalau sedari tadi aku terus menatap dirinya. Dia pun membalas dengan menatapku dengan tajam. Aku langsung memalingkan mukaku dan berpura-pura tidak melihatnya.
“ada apa kau menatapku begitu??” tanya rian mengagetkanku
“ehhh... enggakk...” jawabku gugup
“cepatlah mandi dan turun,  mamah pasti sudah menunggu kita” ucap rian
Aku langsung menuju kamar mandi dan segera mandi. Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi. Kulihat kamar ini sudah sepi. Tidak terlihat rian disini. Saat aku mulai mengenakan pakaian, terdengar suara pintu terbuka. Sontak aku kaget dan melihat kearah pintu.
“ehhh.. maaf... kupikir kau sudah selesai. ” ucap rian malu dan kembali menutup pintu
Apa yang terjadi?? Apa?? Ahhh... ini memalukan... tapi kenapa harus malu?? Dia kan suamiku?? Iya suamiku. Tapi kenapa aku merasa canggung?? Ya tuhan kenapa aku ini..
Setelah aku selesai berdandan, aku turun kebawah dan kulihat rian dan mertuaku sudah ada di meja makan.
“pagi sayangg... ” sapa mertuaku
“pagii mahh..” jawabku senyum
“gimana malam pertamanya??” tanya mertuaku to the point
“emm... anuuu....” aku terbata-bata
“ah mamah kenapa tanya begitu? Sudah pasti kami menikmatinya. Aku begitu bahagia mah.” Sahut rian menjawab
Aku mengernyitkan kening dan melotot kearah rian. Bahagia katanya?? Bahagia apanya?? Menikmatinya?? Menikmati apa coba?? Gumamku kesal dalam hati.
“bagus deh kalo gitu sayang... mamah pengen gendong cucu soalnya..” ungkap mamah
Aku tersedak saat mendengar ucapan mertuaku tadi. Cucu?? Omg hellooo... cucu dari hongkong..
“kami akan usaha sekeras mungkin biar mamah cepet dapet cucu.. hehe” jawab rian sambil melirik kearahku.
Apa maksudnya coba?? Usaha?? Usaha apaan?? Terlihat rian begitu menikmati sandiwara ini.
Setelah semuanya selesai sarapan, rian bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sedangkan aku masih cuti dari seminggu yang lalu. Rian pamit kepada mamahnya. Dan sekarang dia ada didepanku.
“aku berangkat dulu ya sayang... ” ucap rian kemudian mengecup keningku.
Aku masih berdiri dan kaget ketika rian mengecup keningku. Sayang?? Dia memanggilku sayang?? Mungkin ini bagian dari sandiwara kami.
.........
Hari-hariku berjalan masih sama seperti sebelum aku menikah, cuma bedanya sekarang setiap berangkat dan pulang kerja aku diantar jemput oleh suamiku. Hari ini hari pertama aku mengajar setelah kemarin cuti untuk menikah. Banyak yang memberiku selamat, baik dari para guru ataupun muridku. Ada juga yang memberiku kado dan diletakkan di mejaku.
“ciieee pengantin baru...” goda mbak dian
“apaan sih mbak... ” jawabku
“gimana malam pertamanya??” goda mbak dian lagi
“rahasia” jawabku sambil meninggalkan mbak dian menuju kelas mengajarku
Mbak dian memang sukanya menggoda orang, apalagi seperti aku ini. Pengantin baru. Oh iya, hubungan mbak dian dan reno masih lancar2 saja, dia juga akan menikah dalam 2-3 bulan kedepan. Syukurlah, mbak dian mendapatkan orang yang sangat dicintai dan mencintainya.
Akupun masuk ke kelas 11 sesuai dengan jam mengajarku. Namun setelah beberapa menit aku menjelaskan materi, terdengar ada 2 orang yang berjalan kearah kelas ini. Pak kepsek dan seorang pria disampingnya.
“permisi bu amel.. maaf mengganggu sebentar. Saya ingin memperkenalkan guru baru.silahkan pak perkenalkan diri anda. ” ungkap pak kepsek
“nama saya satrio pambudi, saya guru bahasa inggris.” Ucap lelaki muda itu
“nah begini bu amel, sistem sekolah kita sekarang berbeda, masing2 kelas ada 2 guru saat proses belajar mengajar. Dan pak satrio ini adalah pathner mengajar bu amel.” Ungkap pak kepsek
“iya pak,.. saya mengerti. ” jawabku pelan
Kalau dilihat-lihat, pak satrio ini sepertinya berasal dari jawa. Kelihatan banget dari logatnya dan mukanya juga kentara banget. Cukup ganteng dan keren. Aku bisa-bisa jatuh cinta nih kalo mengajar berdua sama pak satrio.
“kalo begitu saya permisi dulu pak,bu” pak kepsek meninggalkan kami berdua.
“oke, kalo begitu kami akan bagi tugas dengan pak satrio. Saya akan menjelaskan materi, sementara pak satrio akan membuat soal disela2 saya menerangkan. Mengerti??” ucapku keras
“mengerti bu..” ucap muridku serempak
Tak terasa bel sekolah sudah berbunyi. Sudah waktunya kami selesai dan pulang. Seharian ini kami seperti pasangan kekasih yang selalu berdampingan menuju kelas ke kelas.
“bu amel pulang bareng siapa?” tanya pak satrio
“saya dijemput suami pak..” jawabku
“ohh kalau begitu saya pulang duluan bu..” pak satrio meninggalkan aku dengan wajah cemberut, sepertinya dia kecewa mendapati aku sudah punya suami.
Aku menunggu suamiku didepan sekolah. Aku terus melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan angkan 2.30. sudah setengah jam aku menunggunya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik bus saja.
Sampai dirumah, aku mandi dan istirahat sejenak. Kemudian aku menghabiskan waktuku untuk menonton tv sampai malam. Terdengar suara mobil memakirkan dihalaman depan. Pasti itu dia suamiku. Rian menghampiriku disofa dan duduk disampingku.
“kamu tadi pulang naik apa??” tanya rian padaku
“naik bus.” Jawabku cuek
Aku memang kesal terhadap rian, karena aku harus menunggunya dan dia sama sekali gaada kabar.
“kamu marah sama aku?? Maaf ya... tadi aku sibuk banget. Ada meeting dikantor. Aku gak sempat ngabarin kamu. Maaf ya...” pintanya
“iya gapapa kok... aku udah biasa.” Jawabku masih cuek
Aku berdiri dan berjalan menuju ke kamar.
“kalo mau makan, udah aku siapin di meja.” ucapku pelan sambil terus berjalan
Malam ini aku merasa sangat lelah dan berniat untuk tidur duluan. Aku tidur dan mulai memejamkan mataku. Namun terdengar suara pintu terbuka. Rian menghampiriku.
“mel... kamu udah tidur??” tanya rian yang berada disampingku
Aku tidak menjawab dan pura-pura sudah tidur. Terdengar suara hembusan nafasnya yang panjang. Namun aku tidak menghiraukannya.
Pagi ini aku bangun sangat pagi dan pergi diam2 saat rian belum bangun. Aku memang masih merasa kesal sama rian. Dan aku memutuskan untuk pergi ke sekolah sendirian.
“pagi bu amel” sapa pak satrio mengagetkanku
“pagi juga pakk...” jawabku ramah
“kok aku lihat bu amel naik bus pagi ini??” tanya pak satrio penasaran
“iya pak... suami saya lagi sibuk... hehe” jawabku tersenyum tipis
“ohhh... kalo gitu nanti kalo bu amel mau bisa pulang bareng saya aja..” tawarnya
“iya terimakasih pak..” aku tersenyum
Seperti biasa, kami berdua bersikap professional saat mengajar. Aku senang karena pak satrio memiliki cara berpikir yang sama denganku. Sampai hari ini, kami belum ada perbedaan pendapat.
“mari bu kita pulang..” pak satrio menghampiriku
“iya pak..” aku menerima tawarannya
Akhirnya kami berdua pulang bersama dengan naik motor milik pak satria.
Sampai dirumah, rumah ini begitu sepi. Mertuaku hanya menghabiskan waktunya dikamar. Aku menuju kamarku dan mulai membersihkan tubuhku. Malam ini aku memilih mengoreksi hasil ulangan tadi pagi. Tiba-tiba rian datang membuka pintu kamar.
“mel...”
“hmmm...”
“kamu ngapain??” tanya rian
“kamu liat aku ngapain??” jawabku ketus
“mel kamu kenapa sih... tadi pagi kamu pergi diam2... terus pulang juga sama laki2 lain. Siapa dia??” suara rian meninggi
“bukan urusan kamu.” Jawabku dingin
Aku berpikir, kenapa rian tau kalo aku pulang bareng laki2?? Apa dia mengikutiku??
“itu urusan aku mel... aku suami kamu...” rian membentakku
Aku langsung merapikan kertas yang berserakan dimeja dan berdiri menuju tempat tidur.
“mel... aku salah apa sama kamu?? Aku suami kamu mel... kamu gaboleh giniin aku...” rian
“aku gapapa kok.. aku ngantuk, mau tidur.” Jawabku pelan
Namun rian menghampiriku dan menarikku untuk duduk didepannya.
“mel... siapa laki2 tadi??” rian bertanya itu lagi
“bukan urusan kamu. ” jawabku
“itu urusan aku mel.. aku suami kamu...” suaranya meninggi lagi
“kamu memang suamiku.. tapi pernikahan kita cuma sekedar tulisan dikertas. Kamu gak berhak mencampuri urusan pribadiku” jawabku kesal
Rian terdiam lama dan terlihat jelas kalau dia kecewa atas jawabanku tadi. Kemudian dia meninggalkan aku dan pergi keluar kamar.
Sementara aku tidur dan memejamkan mataku.
..............
Seperti biasa, aku sudah bersiap berangkat ke sekolah. Kulihat rian dan mamah sudah ada di meja makan. Kami bertiga hanya makan roti dan susu. Tak banyak yang kami bicarakan di meja makan. Hanya pertanyaan yang gak penting.
Akhirnya kami berdua pamit dan berangkat bersama menuju kantor. Rian tak banyak bicara. Dia mengantarkanku pagi. Beberapa menit kemudian, kami sampai di sekolahku. Sebelum turun rian berkata kepadaku
“tunggu aku ya, aku akan menjemputmu. ” bisik rian
Aku hanya mengangguk
Sampai kegiatan mengajarku selesai, aku berjalan menuju depan sekolahku. Aku akan menunggu suamiku. Pak satrio juga sudah menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku tetap menunggu suamiku. Aku tidak bisa menghubunginya karena ponselku mati. Aku hanya bisa duduk dihalte dekat sekolahku. Tak terasa sudah 5 jam aku menunggunya  dan sekarang sudah jam 7 malam. Aku tak tau, kenapa aku tetap menunggunya. Tiba2 hujan turun sangat lebat. Karena dihalte saat ini ada banyak orang, alhasil aku masih terkena air hujan. Sampai halte ini sepi, tidak ada rian menjemputku. Jam 8 malam. Aku tetap menunggunya. Entah apa yang ada diotakku, aku masih aja percaya sama rian. Sampai aku berpikir untuk pulang naik bus nanti. Tiba2 mobil rian berhenti didepanku.
“kamu ngapain masih disini??” tanya rian
“nungguin orang yang katanya mau jemput aku pulang.” Jawabku kesal
Akhirnya aku masuk ke mobil rian. Sampai tiba dirumah, aku tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aku langsung menuju kamar dan ganti baju karena bajuku saat ini basah.
“mel... kenapa kamu masih nungguin aku.. kan aku udah sms kalo aku gabisa jemput kamu ” ucap rian menghampiriku
Aku baru ingat kalau ponselku mati. Aku tidak menjawab sepatah katapun. Aku langsung tidur dan menarik selimut sampai ujung kepala. Aku tau ini sepenuhnya bukan salah rian, karena dia sudah memberitahuku. Tapi kali ini aku benar2 kesal sama rian. 6 jam aku nunggu dia, sampai kehujanan.
Pagi ini aku merasa tidak enak badan. Bahkan saat rian membangunkanku, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Pandanganku kabur. Kepalaku pusing dan rasanya suhu badanku panas.
“mel... badanmu panas.. sepertinya kamu demam mel..” ucap rian
Aku hanya diam tak tak bisa bangun. Rian mengambil handuk dan membahasahinya dengan air. Rian mengompresku. Aku hanya bisa pasrah dan terbujur lemas.
“rian... sekolahkuu... ” gumamku
“aku akan ijinkan kamu hari ini ke sekolah” jawab rian
Rian hari ini merawatku dengan penuh perhatian. Dia juga menyuapiku dan memberiku obat penurun demam. Bahkan saat aku terbangun dari tidurku, terlihat rian tertidur disamping ranjangku. Sepertinya dia menungguiku dan sampai ketiduran. Aku mencoba bangun dari tempat tidurku, sontak rian juga ikut terbangun.
“kamu udah bangun mel??” tanya rian
Aku hanya mengangguk pelan.
“maafin aku mel, gara2 aku kamu jadi sakit...” rian memelas
Aku hanya diam tak berkata apapun.
“aku capek tidur terus... aku mau nonton tv..” ucapku pelan
Rian menggandengku dan menuntunku untuk turun kebawah. Aku bosan jika harus dikamar seharian.
“mel.. aku temenin kamu disini ya..” ucap rian
“kamu gak ke kantor??” tanyaku pelan
“aku gak ke kantor mel, aku mau nemenin kamu sampe sembuh. ” jawab rian
Aku kembali terdiam dan fokus untuk menonton acara tv. Sepertinya rian merasa bersalah karena kejadian kemarin. Namun itu memang salahnya, lain kali aku tidak akan percaya lagi padanya.
“riann...” panggilku pelan
“iya mel...” jawabnya
“kapan sandiwara ini berakhir??” tanyaku langsung ke pointnya
“kenapa mel?? Apa kamu sudah menemukan cinta sejatimu??” tanya rian kaget
“enggak.. bukan itu.. aku gak kuat lagi kalau terus begini... kamu juga harus melanjutkan hidupmu. Begitupun denganku. Aku ingin hidup sendiri tanpa ada kamu dihidupku. ” jelasku pada rian
“kamu gak suka mel hidup bersamaku?? Apa karena aku sering mengecewakanmu akhir2 ini?? ” tanya rian
“aku lelah dengan semua ini... kapan sandiwara ini akan berakhir?? Bukankah pernikahan kita hanya sementara??” aku
“mel.. aku akan melepasmu jika kamu mendapatkan cinta sejatimu, jika tidak kamu akan terus bersamaku dan menjalani pernikahan ini.” Jawab rian
“kenapa harus menungguku mendapatkan cinta sejati?? Kenapa kamu gak nglepasin aku sekarang??? Kamu jahat rian..” tak terasa airmataku mengalir.
“ada waktunya aku akan memberitahumu mel.” Jawab rian sembari pergi meninggalkanku.

............
Aku masih bingung dengan jalan pikiran rian saat ini. Mengapa dia tidak melepaskanku saja?? Pikirku dalam hati
Hari ini masih seperti biasa. Aku mulai mengajar lagi dan bertemu dengan pathnerku, pak satrio. Kali ini pak satrio mengajakku untuk pulang bareng, dan sebelum pulang kami mampir dicafe langgananku.
“akhir2 ini bu amel sering murung saat mengajar. Kenapa?” tanya pak satrio
“gak ada apa2 kok pak... biasa ada masalah kecil sama suami..” jawabku
“ohh... emang suami ibu orang sibuk ya??” tanya pak satrio
“begitulah... dia harus bertanggungjawab pada perusahaannya.” Jawabku lagi
“kenapa ibu masih mengajar kalau suami ibu orang kaya?” pak satrio
“mengajar adalah cita2ku dari kecil pak.”  Jawabku tersenyum
Setelah mengobrol panjang lebar, kami pun memutuskan untuk pulang.
Sampai dirumah, rian ternyata sudah ada dirumah. Sepertinya dia pulang lebih awal dari biasanya.
“kemana aja kamu jam segini baru pulang??” tanya rian
“sama temen tadi ngobroll dicafe..” jawabku singkat
Tiba2 rian melemparkan beberapa kertas didepan mukaku.
“apa ini rian??” tanyaku kaget
“kamu liat aja sendiri. Itu yang namanya temen? Berduaan berjam2 dengan laki2 lain??” rian marah
“ini tidak seperti yang kamu liat difoto ini rian,... kami hanya ngobrol biasa.” Jawabku mencoba menjelaskan
Tapi rian pergi meninggalkan aku dan terdengar suara keras pintu yang dibantingnya.
Aku tau rian marah, tapi siapa orang yang mengirimkan foto2 ini kepada rian? Apa maksud dari ini semua..
Semenjak kejadian itu.. aku dan rian tak saling bicara. Rian sering pulang malam dan terkadang dia juga mabuk.
Malam ini aku menunggu rian yang tak kunjung pulang. Terdengar suara mobil, aku langsung berdiri dan bersiap menyambutnya. Namun bukan rian yang kudapati, melainkan seorang wanita dengan dandanan super ketat dan super hot ada didepanku. Wanita itu memberiku amplop coklat dan lamgsung pergi. Aku mengingat, wanita itu adalah wanita yang selalu menempel pada rian saat resepsi dulu. Aku membuka amplop itu dan melihat foto2 rian bersama wanita yang sedang bermesraan di bar atau tempat hiburan malam. Sontak, aku terkejut dan seketika rasanya hatiku seperti teriris-iris. Aku tau rian dan aku hanya terikat oleh buku nikah. Namun, ini sudah keterlaluan bagiku. Tak lama kemudian, rian pulang. Dengan wajah yang berantakan, aku berusaha setenang mungkin menghadapinya.
“kamu kenapa??” tanya rian
Aku hanya diam. Rian mengambil beberapa foto yang tercecer dilantai.
“aku mau kamu urus perceraiannya segera. ” ucapku dengan airmata yang menetes lagi dan meninggalkan rian
“mel... mel... tunggu dulu mel...” rian berusaha mengejarku
Aku mengambil tas dan memasukkan beberapa pakaian kedalam tasku.
“apa yang kamu lakukan mel??” tanya rian
“aku harus pergi dari sini. Sudah cukup aku mendampingimu.” Jawabku dengan suara serak
Setelah aku selesai mengambil pakaianku, aku pergi dari rumah rian. Rian terus mengejarku dan berusaha untuk menjelaskan semuanya. Namun aku tidak menghiraukannya. Satu tempat yang ingin kutuju adalah rumah mbak dian. Hanya mbak dian yang dapat memberiku kebahagiaan.

............
Semenjak aku kabur dari rumah rian, aku tinggal untuk sementara dirumah mbak dian. Aku tetap menjalani hidupku seperti biasanya. Rian selalu menghubungiku, tapi aku selalu menolak telponnya dan mematikan ponselku. Sudah 3 hari ini aku menghindarinya.
Malam ini malam minggu, seperti biasa reno mengunjungi rumah tunangannya, mbak dian. Aku yang duduk disofa dan menonton tv, menyadari kedatangan reno. Namun dia tidak sendirian, dia bersama satu orang yang ku kenal, yaitu rian. Sontak aku langsung berdiri dan mencoba menghindar dari rian. Namun kurasakan tanganku ditahan oleh tangan lainnya. Ya rian menahanku. Aku langsung berbalik menatapnya.
“apa maumu?” suaraku keras
Mbak dian dan reno yang meyadari hal ini, mereka berdua keluar dan memberiku waktu untuk menyelesaikan maslah ini.
“mel, dengarkan aku sekali saja” pintanya
“5 menit” jawabku cuek
“mel, sebenernya foto itu diambil saat aku tak sadarkan diri mel. Aku dijebak. Memang saat aku melihat foto2mu bersama pria lain, aku marah dan tak terima. Akhirnya aku melampiaskan kemarahanku dengan minuman keras. ”
“terus??” tanyaku
“aku gak terima kamu deket sama pria lain mel. Aku sayang sama kamu mel. Darahku mendidih ketika ada yang dekat denganmu selain aku. Aku gabisa ngeliat kamu bersama orang lain. Aku sangat mencintaimu mel..” jelas rian
“tapi... perjanjian kita...” gumamku
“persetan dengan perjanjian itu. Aku udah gak peduli sama perjanjian itu. Yang aku tau sekarang ini adalah  aku gak mau kehilangan kamu..” rian
“tapii... kamu bilang bakal ngelepasin aku kalo aku udah nemuin cinta sejatiku??”tanyaku
“itu dulu karena ku pikir dengan ngelepasin kamu bersama orang yang kamu cintai, aku akan bahagia. Tapi aku gak akan lepasin kamu lagi mel. Gak akan. Kamu juga sayang kan sama aku mel??” tanya rian
“rian... aku memang tidak pernah menyadari perasaanku. Aku cuma gak mau terus sakit atas perlakuanmu. Jujur, aku juga marah saat melihat foto2 itu. Aku merasa tak dihargai lagi. Makanya aku memilih untuk mengakhiri hubungan ini. ” jawabku
“mel.. kalau kamu marah melihat foto-foto itu, berarti kamu juga sayang sama aku mel.. kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. ” ucap rian
Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata saat mendengar ungkapan rian. Ini memang sulit dipercaya. Orang yang dulu dingin terhadapku, orang yang selalu mengecewakanku, sekarang dia adalah orang yang aku sayangi yang mampu membuatku menangis.
Tiba-tiba rian memelukku. Memelukku dengan penuh rasa sayang. Bahkan, ini pertama kalinya, aku merasa sangat dicintai.
“mel... jangan pergi lagi ya.. aku sayang kamu..” ucap rian
Aku hanya mengangguk dan memeluk rian kembali penuh dengan rasa cinta. Sepertinya aku gak mau kehilangan rian.

“gitu dong baikan..”goda reno
Mbak dian dan reno pun ikut senang dengan apa yang kami lakukan. Akhirnya kami tidak jadi bercerai.
“gimana dengan bulan madu kita??” goda rian
“emm... paris... aku pengen ke paris..” jawabku senang
“oke deh istriku tercinta... kita akan bulan madu ke paris..” jawab rian sambil menggendongku kekamarku.

Setelah sekian lama memendam perasaan dan mengalami penderitaan yang begitu berat, akhirnya kamipun dipersatukan oleh cinta. Terimakasih tuhan. Terimakasih mbak dian. Terimakasih para pembaca setiaku...

==========TAMAT==============